Problematika Manajemen SDM Bank Syariah

Perkembangan bisnis perbankan syariah masih belum bisa berkembang pesat di Indonesia. Hal itu disebabkan karena masih ada persoalan yang menghambat bisnis perbankan syariah tersebut, ada beberapa hal yang seharusnya dilakukan dalam rangka memacu perkembangan perbankan syariah dimana perbankan syariah nantinya mempunyai sifat optimistis dalam menghadapi persaingan serta dalam mengantisipasi berbagai masalah yang sering muncul kepermukaan. problematika yang dihadapi bank syariah pada era kini, dapat dikelompokkan menjadi dua faktor yaitu factor eksternal dan factor internal, tetapi yang akan di bahas pada opini ini adalah tentang factor internal. Diantara faktor internal tersebut adalah sebagai berikut :

Jaringan kantor bank syariah yang belum luas

Jumlah penduduk indonesia yang besar, lebih dari 200 juta jiwa, dan tersebar di seluruh penjuru pulau dari sabang sampai merauke, merupakan sebuah aset sekaligus tantangan besar. Dalam sistem perbankan yang berjalan. Sudah pasti membutuhkan rencana yang benar-benar matang untuk membumikan ekonomi islam. Hal ini dikarenakan pusat ekonomi indonesia hanya terjadi di pulau-pulau besar tertentu (red: jawa, sumatra) sedangkan pulau-pulau kecil minim produksi dan distribusi dan juga minim dengan pengetahuan dan pemahaman akan perbankan syariah.

Minimnya sumber daya manusia insani yang dimiliki perbankan syariah.

Dua pertanyaan yang kini menjadi isu terhangat dan menjadi pembicaraan dalam pengembangan perbankan syariah, contoh di awal tahun 2010 adalah; Berapa jumlah sumber daya manusia (SDM) yang dibutuhkan, dan seperti apakah SDM untuk mendukung operasional perbankan syariah kedepan. Padahal perkembangan bank syariah di Indonesia sedang sangat pesat. Disebutkan, menurut direktur bank BNI Rizqullah,”Dengan skenario moderat, pada 2011 dibutuhkan (total) pegawai perbankan syariah adalah 27.328 orang” Dari sini dapat disimpulkan. Bahwasanya, sumber daya manusia yang memahami dan memiliki latar belakang dan disiplin ilmu perbankan syariah tidak memadai. Dalam bahasa sederhana, jumlah SDM perbankan konvensioanl lebih banyak dibandingkan SDM dibank syariah, keadaan ini akan mengakibatkan akselerasi hukum islam dalam praktek perbankan kurang cepat dapat diakomoodasi dalam sistem perbankan, sehingga kemampuan pengembangan bank syariah menjadi lambat.

Kurangnya akademisi yang memahami tentang perbankan syariah.

Karena minimnya akademisi, maka akan berdampak menjadi salah satu penyebab terganggunya perkembangan bank syariah. Dimana lingkungan akademisi yang ada sekarang ini, lebih memperkenalkan kajian-kajian perbankan yang berbasis pada disiplin ilmu ekonomi konvensional, dibandingkan kajian-kajian perbankan syariah. Kondisi ini lebih disebabkan kondisi pendidikan kita yang lebih familiar dengan literatur-literatur ekonomi konvensional dibandingkan literatur islam atau syariah.

Ketika ada problematika di dalam lembaga perbankan syariah maka timbulah beberapa solusi dalam menghadapi problematika perbankan syariah itu sendiri, diantaranya adalah:

a. Perluasan dan pemerataan kantor cabang ke seluruh penjuru indonesia.

Untuk dapat mengentaskan kebutaan mengenai bank syariah yang dialami masyarakat luar jawa pada umumnya. bank syariah perlu untuk memperluas kantor cabang. khususnya di daerah luar jawa dan kota-kota kecil di pulau jawa.

Tetapi sebenarnya, tidak cukup hanya dengan membuka kantor cabang secara luas dan banyak. Menurut Muhammad, bank syariah juga perlu untuk meningkatkan kualitas aktiva melalui restrukturisasi kredit, memperkuat basis permodalan, memiliki strategi usaha yang fokus dengan suatu kompetensi yang terpusat sebagai daya saing, dan yang terakhir memperkuat basis sistem operasional untuk memperluas sistem distribusi penyaluran kredit.

b. Membuka program rekrutmen dan training perbankan syariah

menurut Irfan syauqi Beik tentang masalah kurangnya SDM di perbankan syariah. Menurutnya, Kebutuhan akan SDM sangat luar biasa besar. Pada jangka pendek, kebutuhan ini bisa diatasi melalui beragam program rekrutmen dan training-training perbankan syariah. Tapi pada jangka panjang, solusi SDM ini mau tidak mau harus diselesaikan melalui pembangunan sistem pendidikan ekonomi syariah yang terencana dengan baik. Bahkan kalau bisa ekonomi syariah diperkenalkan sejak dini. Atau dengan memasukkannya kedalam kurikulum sekolahan.

c. Mempersiapkan akademisi yang terintegrasi antara ilmu ekonomi dan Fiqh Mu’amalah.

ketersediaan tenaga ahli, pakar dan praktisi dalam perbankan syariah sangatlah dibutuhkan bukan saja sekedar memahami fikih muamalah, usul fikih dan ilmu ekonomi modern. melainkan juga menghayati ruh dan falsafah Syariah Islamiyah secara utuh dan komprehensif, maka perlu didirikan semacam Fakultas Ekonomi Islam, atau Jurusan Ekonomi Islam dengan kurikulum standar internasional seperti yang kini diberlakukan pada International Institute of Islamic Economics, Islamabad, Pakistan, dan lembaga pengkaji masalah perbankan dan ekonomi kontemporer seperti muamalat intitute[23]

Peningkatan kualitas sumber daya insani dibidang perbankan syariah

Peningkatan kualitas sumber daya insani menjadi elemen penting yang sangat diperlukan untuk memicu pengembangan bank syariah. Hal ini dapat diimplementasikan dengan mengupayaan usaha yang berguna untuk mengembangkan sistem pendidikan dengan cara mengintegrasikan teori dan praktek perbankan syariah. Wacana ini sangat diperlukan perbankan syariah masa kini karena perbankan syariah sekarang ini berada ditengah-tengah masyarakat akademik dan non akademik yang berorientasi pada integrasi peningkatan perbankan syariah. (Siti Netti Sentri Yunisa)