Hujan Sebagai Sumber Air Minum

oleh -63 views

Peneliti dari Monash University di Melbourne, Australia, melakukan penelitian untuk mencari tahu apakah air hujan layak dijadikan sumber air minum. Penelitian ini mengamati 300 rumah yang menggunakan air hujan sebagai sumber air utama yang dikumpulkan dalam sebuah tangki. Hasilnya tingkat gastroenteritis atau flu perut yang disebabkan oleh virus atau bakteri tertentu di keluarga yang menggunakan air hujan sangat mirip dengan masyarakat yang minum dari air keran yang terawat. Artinya, mengonsumsi air hujan secara langsung cukup aman dari risiko penyakit.

Bagaimana dengan di Indonesia, apakah sudah memanfaatkan air hujan dengan jumlah curah hujan di Indonesia mencapai hampir 2.500 mm pertahun (Worldbank, 2015). Curah hujan yang tinggi seharusnya diberdayakan dengan semaksimal mungkin, namun saat ini diperkirakan hanya sekitar 30 persen air hujan menjadi sumber air yang potensial tertampung pada danau alam, danau buatan, waduk-waduk, rawa-rawa dan sebagian lagi meresap ke dalam tanah sebagai air tanah. Sementara sekitar 70 persen air hujan menjadi aliran air permukaan (surface run off) yang masuk ke sungai-sungai dan sebagian terbuang percuma ke laut (Mochtar, 2002).

Curah hujan yang tinggi seringkali menghawatirkan, bahkan terkadang hujan yang deras sangat meresahkan karena seringkali menimbulkan banjir, sebenarnya hal ini tidak perlu dikhawatirkan jika pengelolaan air berjalan dengan baik, seperti tersedianya tampungan air yang mamadai.

Di lain pihak hujan merupakan yang sangat ditunggu-tunggu khususnya rumah tangga yang sumber air minumnya adalah air hujan. Hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) tahun 2018, menunjukkan persentase rumah tangga yang sumber air minumnya adalah air hujan cukup sedikit, terdapat 2,45 persen rumah tangga yang memanfaatkannya. Secara nasional angka ini sangat kecil, namun ada sebuah provinsi yaitu Kalimantan Barat yang pemakaian air hujan sebagai sumber air minum mencapai 41,72 persen. Angka ini tidak begitu berbeda jauh dibandingkan dengan tahun 2015-2018 seperti pada gambar dibawah ini:

Air hujan sebagai sumber air minum adalah salah satu solusi dari kelangkaan air bersih, namun sangat perlu diperhatikan bagaimana sebenarnya kualitas air hujan sekarang ini apakah layak untuk dikonsumsi atau tidak. Apakah sejalan dengan peneliti dari Monash University di Melbourne, Australia diatas. Peraturan kualitas air dapat dilihat pada Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air. Parameter yang digunakan terdiri dari parameter fisika, kimia anorganik, kimia organik, mikrobiologi, dan radioaktivitas.

Peraturan pemerintah tersebut membagi mutu air ke dalam empat kelas, yaitu : (1) kelas I, air yang peruntukannya dapat digunakan untuk air baku air minum, dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut; (2) Kelas II, air yang peruntukannya dapat digunakan untuk prasarana/sarana rekreasi air, pembudidayaan ikan air tawar, peternakan, air untuk mengairi pertanaman, dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut; (3) Kelas III, air yang peruntukannya dapat digunakan untuk pembudidayaan ikan air tawar, peternakan, air untuk mengairi pertanaman, dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut; (4) Kelas IV, air yang peruntukannya dapat digunakan untuk mengairi pertanaman dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut.

Air hujan pada dasarnya mempunyai kualitas yang baik karena tidak mengandung larutan garam, zat-zat mineral dan lainnya. Namun air hujan dapat bersifat korosif karena mengandung zat-zat yang terdapat di udara seperti NH3, CO2 agresif, ataupun SO2. Adanya konsentrasi SO2 yang tinggi di udara yang bercampur dengan air hujan akan menyebabkan terjadinya hujan asam.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melakukan Analisis Kualitas Air Hujan dengan mengukur beberapa unsur kimia antara lain: Derajat Keasaman (pH), Daya Hantar, Kalsium, Magnesium, Natrium, Kalium, Amonium, Klorida, Sulphat, Nitrat, Kesadahan Total, dan Keasaman. Tahun 2016 jika dibandingkan dengan kriteria mutu air Kelas I, terlihat bahwa terdapat dua parameter yang melebihi baku mutu, yaitu parameter Nitrat yang telah melebihi baku mutunya di semua provinsi dan parameter Magnesium yang sudah melebihi baku mutunya di 25 provinsi (Statistik Lingkungan Hidup Indoensia 2017).

Analisis air hujan diatas dapat memberikan gambaran walau tidak sampai melihat bagaimana dampaknya ketika diminum sebagaimana penelitian dari Monash University. Berdasarkan kriteria mutu air Kelas I menunjukkan bahwa air hujan masih cukup layak untuk dijadikan sumber air minum di Indonesia.

 

Winda Sartika Purba
Statistisi Pertama Subdirektorat Statistik Lingkungan Hidup, BPS