Apa Kabar Vaksin Measles dan Rubella?

oleh -115 views


Oleh : Stefani Diorani – Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia

Ilustrasi. (Istimewa)

Campak dan Rubella adalah penyakit infeksi menular melalui saluran napas yang disebabkan oleh virus Campak dan Rubella. Campak dan Rubella merupakan dua jenis penyakit yang tersebar melalui udara namun memiliki perbedaan satu sama lain. Campak/Measles merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh virus measles dan dapat ditularkan melalui batuk dan bersin. Pengobatan yang diberikan pada penderita hanya bersifat supportif tetapi kedua penyakit ini bisa dicegah dengan imunisasi.

Di Indonesia, Rubella merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang memerlukan upaya pencegahan efektif. Data surveilans selama lima tahun terakhir menunjukan 70% kasus rubella terjadi pada kelompok usia <15 tahun. Rubella virus adalah agen penyebab penyakit rubella atau biasa disebut campak Jerman. Virus rubella menyebar dari orang ke orang melalui rute pernapasan. Kekebalan yang diperoleh setelah terkena infeksi secara alami atau dengan cara vaksinasi dapat bertahan seumur hidup. Jadi, dapat dikatakan bahwa Campak dan Rubella perlu menggunakan pencegahan efektif.

Pada tahun 2018, Serum Institute of India (SII) membuat vaksin Measles Rubella yang digunakan sebagai solusi untuk memberantas permasalahan campak dan rubella di dunia. Lembaga Pengkajian Pangan Obat-obatan dan Kosmetika (LPPOM) Majelis Ulama Indonesia (MUI) dalam Sidang Komisi Fatwa MUI pada 15 Agustus 2018,menyatakan bahwa vaksin MR mengandung bahan yang berasal dari babi, tapi penggunaannya dibolehkan karena beberapa alasan, di antaranya sejauh ini tak tersedia vaksin yang benar-benar halal dan untuk mencegah efek negatif jika anak tak diimunisasi. Publikasi fatwa MUI tersebut mengakibatkan timbulnya keresahan di masyarakat, terutama reaksi penolakan dari masyarakat.

Sebagian besar masyarakat pada beberapa daerah di Indonesia menolak anaknya mendapatkan vaksin MR, karena rendahnya tingkat kepercayaan terhadap kehalalan dari vaksin MR.Orang tua yang menolak vaksinasi menganggap anak mereka tetap sehat meskipun tidak diimunisasi. Namun, dari beberapa pendapat pakar kesehatan menyatakan bahwa anak-anak yang tidak diimunisasi justru akan mendapat perlindungan dari mereka yang divaksinasi. Beberapa alasan masyarakat menolak (kontra) vaksin MR adalah (1) vaksin tersebut belum memiliki sertifikat halal; (2) ada anggapan bahwa imunisasi ini bisnis dari perusahaan obat; (3) adanya keterangan dari tenaga medis yang kompeten bahwa tidak ada vaksin yang halal; (4) ketakutan karena selama ini banyak beredar vaksin palsu; (5) anak sering sakit/rewel setelah divaksin, dan (6) kurang dukungan keluarga/suami/ orangtua terhadap vaksin.

Sementara itu, pendapat yang mendukung vaksinasi tersebut didasari atas beberapa alasan yaitu mencegah lebih baik daripada mengobati, vaksinasi penting mencegah penyakit infeksi menjadi wabah, dan standar kesehatan individu dan lingkungan masih rendah di Indonesia sehingga anak diperlukan vaksinasi. Selanjutnya, Fatwa MUI No. 4 tahun 2016 tentang imunisasi menetapkan imunisasi tersebut pada dasarnya bersifat mubah pada kondisi darurat, dan belum ditemukan bahan vaksin yang halal dan suci. Dengan dinyatakannya bahwa vaksin MR mubah dan mendukung vaksinasi, maka vaksin MR tidak diharamkan.

Dengan pro dan kontra ini, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melakukan beberapa tindakan sebagai upaya meningkatkan pemahaman masyarakat akan pentingnya vaksinasi MR. Kementerian Kesehatan berkewajiban untuk melindungi anak-anak dan masyarakat dari bahaya penyakit Campak dan Rubella.Pemerintah Indonesia telah berkomitmen untuk mencapai eliminasi campak dan pengendalian rubella/ Congenital Rubella Syndrome (CRS) pada 2020. Salah satu program yang saat ini tengah dijalankan pemerintah adalah upaya pencegahan dengan imunisasi.

Pandangan Komisi Fatwa yang menilai bahwa Kementerian Kesehatan, Komite Nasional Pengkajian dan Penanggulangan Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (Komnas PP KIPI), Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Indonesian Technical Advisory Group (ITAGI) dan PT Biofarma memenuhi syarat kompetensi dan kredibilitas dalam memberikan penjelasan mengenai urgensi dan signifikansi pelaksanaan imunisasi MR di Indonesia untuk mewujudkan kesehatan masyarakat dan menilai bahwa kebutuhan penggunaan vaksin MR produksi SII untuk pelaksanaan imunisasi MR sudah memenuhi keriteria darurat syar’iyyah mengingat bahaya yang ditimbulkan jika tidak dilakukan imunisasi serta belum ada vaksin lain yang halal dan suci dan belum ada alternatif cara lain yang efektif untuk melakukan pencegahan penyakit Campak dan Rubella.

Berdasarkan hasil kajian terhadap situasi di Indonesia oleh Kemenkes bersama para ahli dari WHO dan akademisi dari beberapa Fakultas Kedokteran dan Fakultas Kesehatan Masyarakat di Indonesia pada Oktober 2014 lalu, maka direkomendasikan agar dilakukan kampanye imunisasi MR dengan sasaran usia 9 bulan sampai dengan <15 tahun. Untuk dapat memutuskan mata rantai penularan maka diperlukan cakupan imunisasi minimal 95% di seluruh tingkat wilayah agar terbentuk herd immunity (kekebalan kelompok) seperti yang diharapkan. Imunisasi merupakan satu-satunya pencegahan yang paling efektif dan cost efektif. Tentu kita tidak ingin ada anak Indonesia yang harus menderita dan menjadi beban keluarga dan negara di masa depannya. Untuk itu, negara berkewajiban hadir untuk melindungi mereka dari ancaman penyakit berbahaya yang sebenarnya bisa dicegah dengan imunisasi.

Referensi:
CNN Indonesia.2018.IDAI Sebut Indonesia Darurat Campak Rubella. [online] tersedia di https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20180823200106-255-324462/idai-sebut-indonesia-darurat-campak-rubella diakses pada 29 Oktober 2018
Fatwa Majelis Ulama Indonesia Nomor 33 Tahun 2018 Tentang Penggunaan Vaksin MR (Measles Rubella) Produk dari SII (Serum Institute of India) untuk Imunisasi [online] tersedia di https://dinkes.acehprov.go.id/uploads/Fatwa-MUI-No.33_Tahun_2018-tentang-penggunaan_Vaksin_MR_.pdf diakses pada 30 Oktober 2018
Husna, Cut.dkk.2017.Pro dan Kontra Vaksinasi Measles dan Rubella (MR). [online] tersedia di http://www.fkep.unsyiah.ac.id/berita/pro-dan-kontra-vaksinasi-measles-dan-rubella-mr diakses pada 30 Oktober 2018
Kemenkes RI.2017.Kampanye Imunisasi Measles Rubella. [online] tersedia di http://www.searo.who.int/indonesia/topics/immunization/petunjuk_teknis_kampanye_dan_introduksi_mr.pdf?ua=1 diakses pada 29 Oktober 2018
Kemenkes RI.2018.Kemenkes Percepat Proses Sertifikasi Halal Vaksin MR, Imunisasi MR Tetap Dilanjutkan.[online] tersedia di http://www.depkes.go.id/article/view/18080600002/kemenkes-percepat-proses-sertifikasi-halal-vaksin-mr-imunisasi-mr-tetap-dilanjutkan.html diakses pada 29 Oktober 2018
Kemenkes RI.2018.Fatwa MUI Bolehkan Imunisasi Campak dan Rubella, Kemenkes Fokus Turunkan Beban dan Dampak Penyakit Tersebut Penyakit Tersebut. [online] tersedia di http://www.depkes.go.id/pdf.php?id=18082400002 diakses pada 29 Oktober 2018