Kamis , Desember 13 2018
Home / Ekonomi & Bisnis / Upaya Menyiapkan Sumber Daya Manusia di Industri Perbankan Syariah

Upaya Menyiapkan Sumber Daya Manusia di Industri Perbankan Syariah

Ilustrasi.

Dewasa ini perkembangan Bisnis Syariah di Indonesia sendiri cukup menggembirakan. Saat ini Bisnis Syariah tidak hanya dianut oleh kelompok pengusaha kecil dan perorangan. Pengusaha besar dan bahkan lingkup pemerintah mulai melirik Bisnis Syariah. hal ini dapat kita lihat dari banyaknya usaha syariah yang berdiri di bawah bendera naungan mereka.

Hal yang paling menarik karena perkembangannya sangat pesat, yaitu terjadi pada sektor perbankan. Jika dulu perbankan yang berskala kecil saja yang mau menerapkan sistem syariah, sekarang bank-bank raksasa yang merapkan sistem konvensional mulai berani menerapkan sistem syariah. Dan ternyata berdasarkan hasil penelitian, masyarakat lebih percaya menyimpan dananya di bank-bank syariah.

Geliat Bisnis Syariah yang semakin menuju titik terang, Tidak luput dari kesabaran para pelaku Bisnis Syariah untuk komitmen dalam menjalankan usahanya. Seiring dengan semakin bertambahnya jumlah orang yang memahami ajaran Islam secara kaffah. Bahwa kegiatan bisnis termasuk dalam kerangka ibadah kepada Allah SWT.

Semakin maraknya Bisnis Syariah, sangat membantu para pelaku ekonomi dari kalangan rakyat kecil. Karena dalam sistem Islam, keuntungan harus dirasakan oleh kedua belah pihak tidak berdasarkan jumlah modal yang dimiliki. Sistem Islam pun menganut paham saling menolong, bukan sebaliknya pemodal besar menindas pelaku bisnis kecil. Sehingga para pelaku bisnis kecil punya peluang untuk meningkatkan usahanya, bahkan bisa jadi sejajar dengan pemilik modal besar, bukan suatu hal yang mustahil.

Direktur Perbankan Syariah Otoritas Jasa Keuangan Dhani Gunawan Idhat ujarnya di Hotel Rancamaya, Bogor, pada Sabtu 21 November 2015, dalam harian tempo mengatakan setidaknya ada 7 (tujuh) permasalahan yang dihadapi oleh bank syariah saat ini, di antaranya permasalahan sumber daya manusia di perbankan syariah itu sendiri. Karena banyak sumber daya manusia yang handal serta berkualitas bergabungnya ke bank konvensional, sedangkan yang bergabung dengan bank syariah sangat sedikit. Sehingga rata-rata sumber daya manusia di bank syariah kurang memiliki kemampuan dalam memodifikasi produkproduk perbankan, serta memahami kontrak-kontrak syariah juga menjadi permasalahan tersendiri ditambah lagi ketidakmampuan dalam kesyariahan di dalam memahami dan menerapkan prinsip-prinsip syariah.

Oleh karena nya, berikut adalah langkah-langkah strategis yang diperlukan dalam upaya menyiapkan sumber daya manusia di industri pebankan syariah menurut Bapak Indris Parakkasi;

Pertama, perlunya regulasi berupa undang-undang dan kebijakan pemerintah terhadap pengembangan industri perbankan dan lembaga keuangan syariah yang memungkinkan dinamika ekonomi syariah tumbuh dan berkembang secara sehat. Termasuk dukungan dana dalam pengembangan sumber daya manusia.

Kedua, perlunya sosialisasi tentang ekonomi syariah pada lembaga pendidikan, baik formal maupun non formal melalui kurikulum pendidikan mulai tingkat sekolah dasar sampai perguruan tinggi.

Ketiga, Perlunya peran lembaga dakwah dalam memberikan pencerahan tentang syariah Islam, bahwa syariah Islam merupakan sistem hidup yang universal dan komprehensif dalam mengatur tatanan kehidupan.

Keempat, peran orang tua dan guru sangat strategis dalam menyiapkan sumber daya manusia yang tangguh baik dari sisi akidah, syariah maupun ahlak.

Kelima, perlunya sinergitas dari seluruh komponen industri perbankan dan lembaga keuangan syariah dalam menyosialisasikan dan menyiapkan sumber daya manusia yang berbasis syariah melalui seminar, lokakarya, simposium, dialog terbuka serta pelatihan-pelatihan yang berjenjang dan berkesinambungan.

Keenam, perlu dibuat lembaga training center dan konsultan ekonomi syariah sebagai pabrik SDM industri perbankan dan lembaga keuangan syariah.

Ketujuh, saatnya memakmurkan ekonomi islam dengan sumberdaya manusia yang berkompeten melalui Sekolah Tinggi Ekonomi Islam (STEI) untuk menghasilkan sarjana-sarjana ekonomi Islam yang paham tentang hukum-hukum syariah dan manajemen perbankan dan keuangan.

Kedelapan, perlunya kerjasama multilateral SDM dengan negara-negara yang sudah maju dalam pengembangan industri dan lembaga keuangan syariah.

Kesembilan, perlu dibuat forum komunikasi pelaku industri perbankan dan keuangan syariah dalam upaya memberikan masukan-masukan dalam peningkatan kualitas SDM. Kesepuluh, perlu dibentuk lembaga sertifikasi sumber daya manusia yang berbasis syariah. Sehingga SDM yang bekerja di industri perbankan dan lembaga keuangan syariah sudah dijamin kualitasnya. Dan yang kesebelas, peran MUI dan Dewan Syariah Nasional (DSN) harus proaktif untuk memberikan masukan dan nasehat terhadap pengembangan sumber daya manusia syariah, agar kompetensi dan perilaku mereka tidak bertentangan dengan syariah. Wallahu a’lam. (Syurifatun Nisa)

Comments

comments