Kamis , Desember 13 2018
Home / Feature / Tugas dan Peran Auditor pada Lembaga Keuangan Syariah

Tugas dan Peran Auditor pada Lembaga Keuangan Syariah

Oleh : Aisyah Mutiah

Audit Syariah merupakan bidang investigasi yang baru muncul. Maka dalam praktik nya audit konvensional memiliki pengaruh yang signifikan pada kerangka kerja audit yang digunakan di Lembaga Keuangan Syariah. Tugas dan tanggung jawab dari auditor pada Lembaga Keuangan Syariah juga jauh lebih luas dari audit konvensional dalam hal pemeriksaan, struktur produk, pelaporan transaksi, penyusunan laporan keuangan, laporan, surat edaran pemasaran, dan dokumen hukum lainnya, yang berkaitan dengan operasi Lembaga Keuangan Syariah.

Karena keuangan syariah memiliki bagian yang mendukung konservatisme dengan melarang transaksi-transaksi yang mengandung riba, maysir (judi), dan gharar (ketidak jelasan dalam transaksi). Para auditor dalam Lembaga Keuangan Syariah harus menyelidiki lebih lanjut sejauh mana Lembaga Keuangan Syariah memiliki fungsi Uqud yaitu menjaga antara kontrak dan komitmen kontraktual. Auditor harus memperhatikan tanda-tanda adanya ikhtikar (menaikkan harga secara sengaja), bakhs (usaha yang dilakukan dengan sengaja untuk mengurangi atau menurunkan nilai produk yang dijual), dan israf (bermewah-mewahan).

Dalam Standar Tata Kelola AAOIFI No. 3 dijelaskan bahwa tujuan audit syariah adalah untuk memastikan bahwa manajemen Lembaga Keuangan Syariah melaksanakan tanggung jawabnya terkait dengan penerapan aturan dan prinsip syariah, sebagaimana ditentukan oleh Dewan Pengawas Syariah di Lembaga Keuangan Syariah.

Kredibilitas auditor atas pernyataan keuangan kliennya tergantung pada kompetensi yang dimiliki oleh auditor. Kompetensi menggambarkan kualifikasi kemampuan individu untuk menemukan kesalahan dalam sistem akuntansi. Dalam konteks audit syariah, kompetensi auditor berkonotasi pada kepatuhan pada aturan syariah dan standar yang berasal dari kerangka syariah yang mengatur transaksi ekonomi. Auditor syariah juga bertanggung jawab tidak hanya kepada manajemen tetapi juga kepada Komite Pengawas Syariat. Auditor tidak hanya harus melakukan audit laporan keuangan tetapi juga audit kepatuhan terhadap struktur organisasi dan pemeriksaan audit atas kecukupan Proses tata kelola syariah, memberikan rekomendasi kepada Komite Audit dan Komite Pengawas Syariat.

Audit syariah sendiri memiliki tiga level, yaitu : audit atas laporan keuangan Lembaga Keuangan Syariah,  pemenuhan mengaudit struktur organisasi, orang dan proses, serta ulasan tentang kecukupan proses pemerintahan syari’ah. Kerangka kerja ini menjelaskan bahwa audit syari’ah harus dilakukan oleh auditor internal yang telah memperoleh pemahaman dan pelatihan Syariah yang memadai.

Salah satu Negara yang sudah mempunyai audit syariah dalam Lembaga Keuangan Syariah nya adalah Malaysia. Sejak awal tahun 1970-an, Malaysia telah semakin memperkenalkan keuangan Islam ke dalam ekonomi negaranya. Keberhasilan Lembaga Keuangan Syariah di Malaysia jelas dibuktikan oleh kemampuan mereka untuk menarik modal dari investor internasional serta respon dari Muslim lokal dan warga non muslim.

Comments

comments