Senin , November 19 2018
Home / Feature / Tiga Formulasi Kompetensi Auditor Syariah di Indonesia

Tiga Formulasi Kompetensi Auditor Syariah di Indonesia

Indonesia merupakan negara dengan Populasi umat Islam terbesar nomor satu di dunia. Dengan jumlah populasi sebesar 209 juta jiwa. Dengan jumlah yang sangat besar ini memotivasi Indonesia agar terus berbenah dalam pemenuhan kebutuhan sistem ekonomi yang ada di Indonesia. Pertumbuhan Ekonomi syariah di Indonesia sangat signifikan itu di iringi dengan hadirnya beberapa Lembaga Keuangan Syariah (LKS) seperti Bank Umum Syariah (BUS), Unit Usaha Syariah (UUS) dan Bank Perkreditan Rakyat Syariah (BPRS). Berdasarkan data Perbankan Syariah di Indonesia per 2018 tercatat bahwa terdapat 14 (BUS), 22 (UUS) dan 167 (BPRS) saat ini. Selain itu juga perkembangan sektor Pilantropi Ekonomi Islam (ZISWAF) terus mengalami progres sebanyak 292 Badan atau Lembaga pengelola zakat, dan 192 lembaga Nadzir Wakaf di Indonesia. Hal tersebut mengindikasikan bahwa semangat membumikan ekonomi syariah di bumi pertiwi ini terus di gaungkan untuk memerangi Riba yang menjamur di tataran kehidupan masyarakat.

Namun terlepas dari banyaknya Lembaga Keuangan Syariah (LKS) dan Lembaga pengelola ZISWAF di Indonesia saat ini, maka di butuhkan pengawasan pada entitas-entitas tersebut. Oleh sebab itu, maka di bentuklah Dewan Pengawas Syariah (DPS) untuk mengawasi dan mengevaluasi kinerja dari lembaga-lembaga syariah tersebut. Baik dari sisi kepatuhan syariahnya (sharia compliance) maupun dari sisi pencatatannya yang di periksa oleh Auditor syariah apakah sudah sesuai dengan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) Syariah.

Auditor Syariah merupakan seseorang yang memiliki kompetensi tertentu dalam melakukan audit atas laporan keuangan syariah dan kegiatan suatu entitas-entitas syariah. Maka oleh sebab itu, sudah seyogyanya seorang Auditor syariah harus memiliki komptensi dasar (pondasi) syariah, agar setiap proses audit yang di lakukan sesuai dengan maqoshid syariah nya. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Nur Aishah Mohd Ali seorang peneliti dari Malaysia memaparkan bahwasanya terdapat tiga syarat kompetensi yang harus di penuhi oleh seorang auditor syariah beliau merumuskan Formulasi KSOC (Knowladge, Skills and Other Characteristics ) dalam memenuhi komptensi bagi seorang auditor syariah. Bagaimana konsep KSOC tersebut bisa sebagai penunjang komptensi berikut penjelasannya.

Pengetahuan (Knowladge)

Pengetahuan yang harus di miliki oleh seorang auditor syariah dalam menunjang komptensi di bagi menjadi dua jenis yaitu pengetahuan umum dan pengetahuan khusus. Pertama, Pengetahuan umum di peroleh melalui latar belakang program studi yang di tempuh oleh seorang auditor ketika masih kuliah di kampusnya. Hal ini sebagai bentuk kontribusi kampus-kampus dalam memberikan SDM lulusan terbaik yang sudah di bekali pemahaman dalam mata kuliah seperti ilmu auditing syariah, akuntansi syariah, dan Fiqih muamalah dan sebagainya yang siap dalam dunia kerja. Kedua, pengetahuan khusus di peroleh melalui pelatihan yang di lakukan oleh lembaga-lembaga yang memilki otoritas dalam mengeluarkan sertifikasi bagi auditor syariah yang di nyatakan lulus setelah melalui beberapa kali tahapan ujian. misalnya IAI (Ikatan Akuntan Indonesia) mengeluarkan sertifikasi akuntansi syariah (SAS).

Keahlian (Skills)

Seorang auditor harus memiliki skill (keahlian) dalam melakukan proses audit agar tercapai tujuan dari audit syariah tersebut. Menurut (CBOK) Common Body Of Knowladge skill terbagi menjadi dua kategori yaitu Skill teknis dan Skill Personal. Pertama, skill teknis seorang auditor syariah harus menguasai 5 hal didalam skill teknis tersebut yaitu Memahami bisnis klien, analisis Resiko,penilian kontrol teknik, mengidentifikasi jenis kontrol, dan memahami SOP industri. Kedua, Skill personal dimana dalam skill personal terdapat 5 perilaku yang harus di penuhi oleh seorang auditor yaitu, kerhasiaan, objektivitas, komunikatif, indepedensi, dan etika audit.

Karaktristik Lainnya (Other Characteristics)

Karaktristik ini bisa kita amati dari perilaku dan sifat seorang auditor, biasanya hal ini bisa kita lihat psikologi seorang auditor junior pada saat proses rekrutmen yang di lakukan oleh perusahaan. Maka akan kita ketahui potensi dan karakter dari seorang auditor tersebut. Namun untuk membangun karkter tersebut bisa kita lakukan dengan dua tahapan pertama, mengadakan training auditor secara terus menerus untuk membangun kemampuan analitisnya. Kedua, tahapan interpersonal seperti identifikasi masalah, solusi pemecahannya, komunikatif serta test tulis. Dengan melalui tahapan tersebut harapannya muncul seorang auditor syariah yang handal dan kompten sebagai auditor syariah.

Dengan formulasi KSOC tersebut harapannya kita bisa mengembangkan potensi dari setiap auditor syariah yang hendak melakukan proses audit pada entitas syariah, Dengan komptensi yang unggul sehingga tercapai maqshid syariah dari setiap aktivitas audit pada lembaga-lembaga keunagan syariah dan lembaga amil zakat yang ada di Indonesia.

 

Halwani (Mahasiswa STEI SEBI)

Comments

comments