Senin , November 19 2018
Home / Feature / Tantangan Millenials : Siapkah Mengisi Kompetensi Auditor Syariah di Negeri Ini?

Tantangan Millenials : Siapkah Mengisi Kompetensi Auditor Syariah di Negeri Ini?

Oleh : Shofia Noor Assyifa

Keberadaan suatu lembaga atau perusahaan, tidak akan lepas dari proses pencatatan akuntansi. Setiap lembaga atau perusahaan berkewajiban melakukan pencatatan atas aktivitas – aktivitas akuntansi yang terjadi dalam perusahaan yang selanjutnya disajikan dalam bentuk laporan akuntansi atau laporan keuangan.

Seperti telah diketahui, konsep akuntansi konvensional yang telah diterapkan di Indonesia maupun sebagai standar internasional selama ini merupakan adopsi dari barat dan budaya kapitalis yang hanya mengandalkan materi dan duniawi. Dengan semakin berkembangnya pola fikir manusia maka dirasa perlu untuk menyeimbangkannya dengan kepentingan ukhrawi.

Terkait dengan hal ini, pertumbuhan perbankan dan keuangan islam telah berkembang pesat selama beberapa tahun terakhir. Lembaga Keuangan Islam (IFI) pada khususnya, yang dibentuk dengan tujuan dan pandangan dunia yang berbeda, meningkat secara drastis diseluruh dunia.

Auditor adalah orang yang memiliki kualifikasi tertentu dalam melakukan audit atas laporan keuangan dan kegiatan suatu organisasi. Auditor syariah memiliki tugas dan fungsi yang sama dengan auditor konvensional pada umumnya. Akan tetapi auditor syariah harus memiliki kompetensi yang handal dan lengkap karena auditor syariah memiliki tantangan yang lebih besar dibandingkan dengan auditor konvensional.

Setidaknya ada tiga kompetensi yang harus dikuasai oleh seorang auditor syariah, yakni pengetahuan, skill, dan kemampuan diluar akuntansi tersebut. Selain dari ketiga elemen utama diatas, auditor syariah juga mungkin menghadapi tantangan besar dari para pembuat kebijakan dan manajemen puncak yang merupakan pemikir progresid dari beragam agama dan praktik. Selain itu, IFI juga menghadapi tantangan dari sistem keuangan yang konvensional yang sudah mapan.

Ekonomi islam sendiri menerapkan konsep dual-akuntabilitas, dimana seorang auditor bertanggung jawab atas tindakannya didunia dan dia akan bertanggung jawab kepada Yang Maha Kuasa di akhirat kelak. Sehingga auditor syariah diharuskan untuk menerapkan adab – adab islam dalam pelaksanaan pekerjaannya.

Maka pada akhirnya, auditor syariah disarankan untuk memperoleh banyak pengetahuan dan model audit syariah melalui program pelatihan yang berbeda yang dilakukan oleh organisasi yang berbeda. Selain itu, auditor syariah pun harus lebih banyak belajar lagi terkait dengan konsep ekonomi yang sesuai dengan syariat islam.

Comments

comments