Kamis , Desember 13 2018
Home / Jabar / Sumedang Bukan Hanya Kota Tahu

Sumedang Bukan Hanya Kota Tahu

Tugu Selamat Datang Di Sumedang Kota Budaya. (foto: Istimewa)

Ketika mendengar Kabupaten Sumedang pasti yang terlintas dalam benak kita adalah Kota Tahu, padahal ada banyak sekali hal-hal menarik lain dari tempat kelahiran penyanyi Rossa ini, selain Tahu yang belum diketahui oleh banyak orang. Diantaranya, Ubi Cilembu yang terdapat di Desa Cilembu Kecamatan Pamulihan, Sumedang yang memiliki rasa manis yang khas seperti madu, yang apabila ditanam ditempat lain bisa tumbuh tetapi rasanya akan berbeda tidak semanis yang ditanam di Desa Cilembu. Setelah mahasiswa dan lembaga penelitian Unpad, ITB dan IPB melakukan penelitian ternyata penyebabnya adalah kandungan dan unsur hara dari tanah yang ada di Desa Cilembu berbeda dengan tempat lain, air dan iklim juga mempengaruhi kualitas dan rasa manis Ubi Cilembu.

Ditjen Hak Kekayaan Intelektual (HKI) Kemenkum HAM mengeluarkan sertifikat eksklusif yaitu Hak Indikasi Geografis dengan nomor Hak IG.00.2012.000008 untuk Ubi Cilembu yang dipegang oleh Asosiasi Agrobisnis Ubi Cilembu, itu artinya Ubi Cilembu sudah tersertifikasi. Ubi Cilembu mempunyai nilai ekonomi yang potensial sebagai penghasil devisa melalui ekspor yang telah mampu menembus pasar regional maupun internasional, diantaranya Singapura, Malaysia, Korea dan Jepang. Berdasarkan catatan kalangan industri argo Jawa Barat data permintaan Ubi Cilembu dari Singapura mencapai 5 ton setiap minggu.

Selain Ubi Cilembu produk unggulan dari Sumedang yang sudah tersertifikasi dan berhasil menembus pasar mancanegara adalah Sawo Sukatali yang berasal dari Desa Sukatali Kecamatan Situraja, Sumedang. Tidak hanya beredar di Jawa Barat Sawo Sukatali yang memiliki aroma yang khas ini, ternyata sudah disorot oleh pengusaha-pengusaha yang berasal dari Dubai dan Kuwait, Sawo Sukatali mulai diekspor pada tahun 2014, “Awalnya permintaan dari luar negeri sekitar 25 kg per minggu, tapi karna semakin banyak konsumen, saat ini mencapai 2 kuintal per minggu” Ujar Engkus, Ketua Kelompok Tani Sawo Sukatali pada 4 Agustus 2016.

Kemudian produk unggulan dari Kabupaten Sumedang yang lainnya berada di Desa Cipancing Kecamatan Jatinangor, Sumedang yang menggeluti kerajinan seperti senapan angin dan ukiran bambu, meskipun masih diproduksi dengan tradisional namun pemasarannya sudah lintas pulau seperti Nusa Tenggara, Batam, Kalimantan dan Bali. Sedangkan ukiran dari bambu dan kayu diminati wistawan asing sebagai cindramata.

Tidak hanya produk-produk unggulan, di Kabupaten Sumedang yang merupakan tempat dimakamkannya Pahlawan Nasional Indonesia Cut Nyak Dien ini, juga terdapat Waduk terbesar kedua se-Asia Tenggara setelah Waduk Jatiluhur di Purwakarta yaitu Waduk Jatigede dengan luas genangan 4.983 ha dan kapasitas tampung 979,5 juta meter kubik. Waduk ini difungsikan sebagai pusat pengairan 90.000 ha lahan pertanian produktif di daerah Cirebon, Indramayu dan Majalengka. Selain pengairan dimanfaatkan juga sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) berdaya 110 Mega Watt (MW), waduk ini juga memasok air bersih bagi warga sekitar dengan kapasitas hingga 3.500 meter kubik per detik, selain itu waduk ini dapat meredam terjadinya banjir bagi 14.000 ha kawasan di Jawa Barat. Waduk Jatigede juga memiliki potensi yang besar sebagai Destinasi Wisata kelas Dunia.

Berdasarkan Peraturan Bupati No. 113 Tahun 2009, Kabupaten Sumedang dinyatakan sebagai “Sumedang Puseur Budaya Sunda” atau “Sumedang Pusat Budaya Sunda”. Alasannya karena, pertama mahkota Binokasih yang merupakan mahkota kerajaan sunda berada di Kabupaten Sumedang, kedua karena masyarakat Kabupaten Sumedang secara keseluruhan masih menggunakan bahasa Sunda sebagai bahasa sehari-hari, ketiga karena di Kabupaten Sumedang terdapat banyak kebudayaan-kebudayaan Sunda yang masih dilestarikan sampai sekarang dan alasan yang terakhir banyak tokoh-tokoh Kebudayaan Sunda yang berasal dari Kabupaten Sumedang.

Kabupaten Sumedang pernah mendapatkan penghargaan piala Adipura sebanyak 2 kali sebagai kabupaten yang bersih dan indah, selain itu Kabupaten Sumedang juga dijuluki Kota Buludru karena kondisi Kabupaten Sumedang masih rindang dengan pepohonan, menyebabkan teduhnya jalanan, sejuk dan segar sehingga sangat hijau dan rindang seperti kain buludru. Kabupaten Sumedang juga memiliki program Compassionate City atau Kota Kasih Sayang karena warga Kabupaten Sumedang yang ramah tamah, jadi Kabupaten Sumedang bukan hanya Kota Tahu.

Ditulis oleh: Dani Ramdani, Mahasiswa STEI SEBI

Comments

comments