Kamis , Desember 13 2018
Home / Opini / Perilaku Membuang Sampah ke Perairan dan Dampaknya

Perilaku Membuang Sampah ke Perairan dan Dampaknya

Hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional Modul Ketahanan Sosial (Susenas Modul Hansos) 2017 oleh BPS, menunjukkan bahwa terdapat 10,5 persen rumah tangga membuang sampah ke sungai/got/selokan yang pada akhirnya sampah-sampah ini masuk dalam ekosistem air dan berakhir di laut. Persentase ini mungkin kelihatannya sedikit namun jika dikalikan dengan jumlah rumah tangga di Indonesia yang lebih kurang berisi 4 anggota rumah tangga dan dikalikan produksi sampahnya yang dibuang keperairan, maka jumlah sampahnya tak lagi sedikit.

Identitas Makhluk Paling Mulia

Terdapat 6 kilogram sampah dalam perut ikan Paus Sperma yang baru-baru ini ditemukan mati3, mari kita berhitung, produksi sampah perkapita perhari sekitar 0,7 kg (60 persen sampah organik)2, diasumsikan sepertiga sampah rumah tangga hasil Susenas Modul Hansos 2017 dibuang keperairan (0,093 kg perkapita sampah anorganik yang masuk keperairan), proyeksi penduduk Indonesia tahun 2017 sebanyak 261.890.900 (BPS) diasumsikan satu keluarga terdapat 4 anggota rumah tangga maka terdapat 65.472.752 rumah tangga (6.874.636 rumah tangga yang membuang sampah ke perairan), maka diperoleh 2.557.364 kg sampah setiap harinya yang dibuang ke perairan. Kasarnya setiap hari akibat perbuatan setiap makhluk paling mulia yang membuang sampah keperairan mengakibatkan 426.227 paus sperma yang isi perutnya sama dengan Paus yang ditemukan mati.

Perhitungan kasar diatas mungkin bisa memberikan sedikit gambaran tentang makhluk paling mulia yang selama ini kita tempelkan pada diri kita, merasa itu identitas kita.

Berita membawa perubahan perilaku

Seekor ikan Paus Sperma yang ditemukan mati seharusnya mampu merubah perilaku kita saat ini agar peduli kepada lingkungan khususnya perairan. Model tertua dan tersederhana menyatakan, perilaku peduli lingkungan dipengaruhi oleh pengetahuan seseorang tentang lingkungan sehingga jika pengetahuannya diubah maka perilakunya akan berubah (Burgess, 1998). Fietkau & Kessel (1981) menyatakan, perilaku peduli lingkungan didorong oleh kesempatan berperilaku peduli lingkungan, sikap dan nilai terhadap lingkungan, insentif yang diperoleh, dan konsekuensi yang dirasakan.

Pemberitaan kematian Paus Sperma berdasarkan model diatas, telah menambah pengetahuan kita dan banyak pemberitaan terkait dampaknya dikehidupan kita baik mikroplastik yang sudah ditemukan dalam ikan, berkontribusi terhadap banjir dan penyakit diare, jika model ini benar maka seharunya perilaku kita berubah.

Perilaku yang perlu dirubah tidak hanya terkait bagaimana cara membuang sampah yang baik tetapi bagaimana menguranginya. Ibarat dapur yang kebanjiran air akibat keran wastafel yang tidak tertutup, yang pertama kita lakukan adalah menghentikan sumber air terlebih dahulu kemudian mengeringkan dapur. Demikian juga permasalahan sampah, sumbernya harus dihentikan (dikurangi) terlebih dahulu kemudian memikirkan pengelolaannya. Banyak cara mengurangi sampah mulai dari membawa tas belanja sendiri, makan langsung ditempat, tidak menggunakan sedotan, membawa tempat minum sendiri, dan lainnya.

Sebelum pemberitaan terkait Paus Sperma yang mati diberitakan bahwa 370 spesies hewan laut telah ditemukan terjerat dalam atau telah menelan sampah laut diseluruh dunia. Kematian ikan ini mungkin ingin menyapa makhluk paling mulia dan mengingatkan identitas yang kita anggap melekat dalam diri kita. Perubahan harus ketika mengingat identitas kita dan mewarisi yang baik untuk generasi yang akan datang.

Winda Sartika Purba, Statistisi Pertama Subdirektorat Statistik Lingkungan Hidup, Badan Pusat Statistik

Referensi:

1 Kaza, Silpa et all. 2018. WHAT A WASTE 2.0. A Global Snapshot of Solid Waste Management to 2050. Washington, DC: World Bank
2 Renstra 2015-2019 Direktorat Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah, dan Bahan Beracun Berbahaya

Comments

comments