Kamis , Desember 13 2018
Home / Uncategorized / Peran Zakat, Infaq, Sedekah (ZIS) untuk Wujudkan Indonesia Berdaya

Peran Zakat, Infaq, Sedekah (ZIS) untuk Wujudkan Indonesia Berdaya

 

Salah satu problematika yang dihapai hampir semua negara di seluruh dunia termasuk Indonesia saat ini adalah masalah kemiskinan. Suatu keadaan dimana banyaknya ketidakseimbangan yang terjadi sehingga menimbulkan sulitnya orang-orang yang memiliki keterbatan disegala dimensi, bahkan mereka tidak berdaya ketika hak-hak mereka diambil dan dirampas untuk berkembang untuk memperbaiki keadaan. Oleh karena itu hal ini menarik dari banyak kalangan untuk ditutansakan dengan cara yang tepat dan cerdas.

Pada bulan september. Jumlah penduduk miskin (penduduk dengan pengeluaran perkapita perbulan dibawah garis kemiskinan) di Indonesia mencapai 26,58 juta orang (10,12 persen), berkurang sebesar 1,19 juta orang dibandingkan dengan kondisi maret 2017 yang sebesar 27,77 juta orang (10,64). (www.bps.go.id). Keadaan sudah cukup bagus karena angka kemiskinan terus menurun, hanya saja pemerintah lebih banyak membantu dalam komoditi makanan terhadap garis kemiskinan lebih besar dibandingkan peranan komoditi bukan makanan (perumahan, sandang, pendidikan dan kesehatan).

Zakat infaq dan shadaqoh adalah ibadah yang memiliki dua dimensi, yaitu merupakan ibadah sebagai bentuk ketataatan kepada Allah (vertikal) dan sebagai kewajiban berhubungan baik terhadap sesama manusia (horizontal). Zakat, infaq, shodaqoh merupakan salah satu ciri dari ekonomi Islam, karena implementasi azas keadilan dalam sistem ekonomi Islam. Pendapatan sesorang juga dapat didefinisikan sebagai banyaknya penerimaan yang dinilai dengan satuan mata uang yang dapat dihasilkan seseorang atau bangsa dalam periode tertentu. (edo aditio, 2017). Dari definisi tersebut perlu diketahui bahwa dalam asset atau harta yang dimiliki ada hak orang lain di dalamnya.

Dari uraian diatas, maka zakat, infaq dan shodaqoh yang ada dibeberapa lembaga zakat,  lebih fokus saat mendistribusikan ke dalam usaha ekonomi mikro agar masyarakat yang kurang mampu lebih mandiri secara financial, atau menyalurkan untuk pendidikan untuk masyarakat pedalaman yang masih sedikit atau bahkan belum sama sekali tersentuh dunia pendidikan. Agar  berdampak baik nantinya jika mereka sudah dewasa. Sehingga ada keseimbangan anatara pemerintah yang saat ini masih lebih dominan memberikan dalam hal pangan, maka lembaga zakat atau lembaga sosial lebih dominan ke pendidikan dan usaha mikro.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalam telah memberikan contoh sebagaimana hadist Anas bin Malik yang diriwayatkan Tirmidzi bahwa ketika ada seorang Anshar yang meminta-minta beliau tidak langsung memberikan kepadanya uang tunai, tetapi mengajarkan bagaimana berusaha dan bekerja, sehingga dalam waktu singkat orang tersebut menjadi mandiri dan tidak meminta-minta lagi. Dari kisah tersebut dapat diimplementasikan dalam penerapan atau pendistribusian untuk masyarakat yang kurang mampu dengan cara memberikan pembelajaran terleboih dahulu atau training tentang usaha.

Pembelajaran untuk masyarakat yang kurang mampu tentunya perlu pendampingan khusus dari pengelola lembaga tersebut, yang kompeten dalam bidang bisnis atau usaha perdaganganya. Sehingga akan lebih mudah bagi masyarakat belajar mengenai ekonomi. Seperti menururt syekh Yusuf Qordhowi, dalam bukunya Fiqh Zakat. Bahwa pemerintah Islam diperbolehkan membangun pabrik-pabrik atau perusahaan-perusahaan dari uang zakat untuk kemudian kepemilikan dan keuntungannya bagi kepentingan fakir miskin, sehingga akan terpenuhi kebutuhan hidup mereka sepanjang masa.

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan masyarakat miskin di Indonesia yang  masih  belum terselesaikan sampai saat ini sangat banyak. Ketika bantuan dari pemerintah masih belum maksimal mengatasi kemiskinan, maka dengan adanya Lembaga sosial atau Lembaga Amil Zakat diharapkan mampu menanggulangi agar masyarakat dapat lebih mandiri lagi secara financial. (raudhoh)

Comments

comments