Kamis , Desember 13 2018
Home / Ekonomi & Bisnis / Pengaruh SDM di Perbankan Syariah Dalam Pengembangannya

Pengaruh SDM di Perbankan Syariah Dalam Pengembangannya

Ilustrasi. (Istimewa)

Industri perbankan di Indonesia saat ini diramaikan dengan adanya bank syariah, yang menawarkan produk keuangan dan investasi dengan cara yang berbeda dibanding bank konvensional yang sudah lama ada. Meskipun bank syariah hadir setelah bank konvensional, namun perbankan syariah berkembang cukup pesat. Kenapa demikian, ini dikarenakan Indonesia merupakan negara muslim terbesar di dunia dan jelas perbankan yang mengunakan hukum dan asas Islam akan lebih diminati.

Bahkan bank-bank konvensional di Indonesia ambil andil dan mengikuti tren dengan mendirikan institusi syariah atau unit usaha syariah sendiri. Hal ini dilakukan untuk menarik lebih banyak nasabah supaya tertarik dengan keunggulan bank syariah.

Kalo melihat sejarah awal mula berdirinya bank syariah di Indonesia, bahwa pelopor berdirinya perbankan syariah di Indonesia adalah Bank Muamalat pada tahun 1991. Bank ini dilahirkan oleh Majelis Ulama Indonesia, Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI), pengusaha Muslim dan juga pemerintah. Bisa disimpulkan juga bahwa bank syariah yang pertama kali berdiri di Indonesia adalah Bank Muamalat.

Perbankan Syariah kerap disebut juga Perbankan Islam, yaitu perbankan yang pelaksanaannya berdasarkan prinsip-prinsip syariah. Karena berdasarkan hukum Islam, maka perbankan syariah tidak mengenal adanya bunga pinjaman atau dalam istilah perbankan disebut interest rate. Bunga pinjaman dianggap riba dan berdosa.

Yang dikenal di perbankan syariah adalah “sistem bagi hasil” atau Nisbah yang prosesnya sama-sama diketahui dan disetujui oleh bank dan pihak nasabah.

Semakin berkembangnya industri perbankan dan keuangan syariah, tentu saja mendorong peningkatan kebutuhan sumber daya manusia (SDM) atau tenaga profesional bank syariah. Hal ini sebagai salah satu faktor penopang utama pencapaian visi dan misi perbankan syariah yang memiliki tujuan memberikan kontribusi signifikan bagi pertumbuhan ekonomi berkelanjutan, pemerataan pembangunan, dan stabilitas sistem keuangan serta berdaya saing tinggi. Di sisi lain, semakin berkembangnya industri perbankan syariah yang juga sejalan dengan perkembangan industri perbankan nasional, meningkatkan kompetisi untuk mendapatkan SDM yang berkualitas.

Perkembangan perbankan syariah ini tentunya juga harus didukung oleh sumber daya manusia (insani) yang memadai, baik dari segi kualitas maupun dari segi kuantitasnya. Namun, realitas yang ada menunjukkan bahwa masih banyak SDM yang selama ini terlibat dalam institusi syariah, tidak memiliki pengalaman akademis dan praktis dalam Islamic Banking. Tentunya kondisi ini cukup signifikan mempengaruhi produktivitas dan profesionalisme perbankan syariah itu sendiri.

Dalam Roadmap Perbankan Syariah Indonesia 2015-2019, permasalahan kuantitas dan kualitas SDM yang belum memadai serta Teknologi Informasi (TI) yang belum dapat mendukung pengembangan produk dan layanan telah diidentifikasi sebagai salah satu isu strategis yang dihadapi dalam pengembangan perbankan syariah Indonesia. SDM merupakan salah satu faktor utama yang menentukan keberhasilan pengembangan produk dan layanan perbankan, serta operasional perbankan secara umum.  Pengembangan kualitas SDM perbankan syariah bukan hal yang mudah. Diperlukan waktu yang panjang dan upaya yang terus menerus untuk dapat melahirkan bankir syariah yang berkualitas melalui pendidikan, pelatihan, dan program magang yang mencakup pada kompetensi teknis, manajerial kompetensi di bidang keuangan syariah dan memiliki kompetensi yang sesuai standar nasional dan internasional.

Untuk menjawab permasalahan tersebut, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyusun beberapa program yang tercantum dalam Roadmap Perbankan Syariah Indonesia 2015-2019, diantaranya ialah Pemetaan Kompetensi dan Kajian Standar Kompetensi Bankir Syariah serta review kebijakan alokasi anggaran pengembangan SDM bank. Kajian mengenai standar kompetensi bankir perbankan syariah diharapkan akan menjadi dasar dalam (1) Pengembangan kompetensi SDM di masing-masing Bank Syariah, (2) Proses pendidikan dan pelatihan kerja termasuk di dalamnya kurikulum pendidikan di perguruan tinggi, serta (3) Penetapan sertifikasi kompetensi profesional bankir syariah.

Dalam jangka panjang, SDM perbankan syariah Indonesia diharapkan dapat memiki kualitas serta kompetensi sesuai standar nasional dan internasional. (Sansan Hasan Basri)

Comments

comments