Jumat , Desember 14 2018
Home / Feature / Menyikapi Belanja Online

Menyikapi Belanja Online

Ilustrasi. (Istimewa)

Di era globalisasi ini, masyarakat cenderung bersikap konsumtif. Perubahan sangat terasa di era 2000an ini. Manusia yang sebelumnya mebangun kehidupan dengan sikap produktif, kini menjadi konsumtif. Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (dalam Sumartono 2002) mengatakan, perilaku konsumtif adalah kecenderungan manusia untuk menggunakan konsumsi tanpa batas dan manusia lebih mementingkan faktor keinginan dari pada kebutuhan. Salah satu penyebanya adalah kemajuan teknologi yang semakin memudahkan kebutuhan manusia. Kemajuan teknologi tersebut dapat dilihat dari berbagai hal, terutama gaya hidup manusia. Sikap konsumtif ini sangat nampak pada kehidupan masyarakat di negara berkembang, Indonesia contohnya.

Masyarakat Indonesia sebagai pengemar belanja, terutama wanita. Rifdah sebagai wanita pun merasakannya. Tawaran-tawaran khusus, diskon besar-besaran, potongan harga, hadiah, dan lain-lain menjadikan niat wanita untuk berhemat menjadi pudar. Walaupun dibalik itu membuka lahan bisnis bagi masyarakat Indonesia itu sendiri. Peluang bisnis kini berlimpah ruah, tentunya bisnis online. Marahknya kemunculan online shop tak membuat masyarakat heran. Dengan hal itu, masyarakat tak perlu membuang banyak tenaga untuk memenuhi kebutuhan sandang maupun pangan. Bahkan, kini penjualan rumah, apartemen, dan sebagainya pun marak dipasarkan online.

Sebagai wanita, Rifdah akan memperkecil lagi ruang lingkup belanja online di mata wanita. Apakah itu? Tentunya wanita akan gencar memenuhi kebutuhan sandangnya. Pakaian dan kosmetik, dua hal tersebut sulit untuk dijauhkan dari wanita. Mungkin di luar sana, masih banyak wanita yang ragu untuk belanja online karena tak dapat melihat wujud produk secara langsung, dan takut menerima hasil yang mengecawakan. Namu, tak sedikit pula wanita yang memilih untuk belanja online, ketika melihat iklan yang dibuat begitun kreativ dan menggiurkan. Endorsement, pait promote, riview, katalog, hal-hal tersebut menjadi pemicu utama seorang wanita untuk belanja online.

Disini, Rifdah akan berbagi pengalaman belanja online. Ketika ingin membeli sesuatu melalui online shop, Rifdah akan mencarinya di media sosial ataupun aplikasi. Dengan yakin, Rifdah menyatakan bahwa Rifdah orang yang berhati-hati, karena selalu mengamati review, rating, endorsement, pada suatu produk yang ingin saya miliki. Sejauh ini, selalu belanja dengan aman, produk sampai dengan selamat. Namun, beberapa kali setelah menerima produk-produk yang dibeli, menyadari kesalahan. Review dan rating yang baik, belum tentu membuat online shop tersebut luput dari kelalaian, atau kekecewaan customer. Apalagi endorsement, yang merupakan jelmaan dari paid promote masa kini. Walaupun suatu online shop memiliki endorsement dari tokoh ternama, tak membuat produk itu layak untuk kita beli. Karena, mereka melakukan hal tersebut tidaklah gratis. Tokoh ternama yang menerimanya pun harus melakukan endorsement sebaik mungkin, karena itu salah satu mata pencaharian mereka di era globalisasi ini.

Beberapa kali Rifdah terkecoh dengan online shop ternama, yang telah memiliki banyak sekali pelanggan. Bahkan, online shop yang sering kali pilih untuk berbelanja dapat mengecoh . Memang, produk itu aman sampai pada tangan . Namun, yang ingin dibahas kali ini adalah wujud asli dan kualitasnya. Pakaian, kosmetik, dan aksesoris smartphone dari toko yang dengan percaya diri menyatakan “trusted” mengecewakan saya.

Bukan hal yang aneh mereka dapat meraup banyak keuntungan dari pelanggan yang membludak, karena pada masa perintisan mereka memberikan kualitas yang lebih dari kata “sangat baik”. Konsistensi itu menurun, dan banyak sekali pelanggan yang mengabaikan hal itu karena toko telah memiliki nama yang besar. Stock produk yang cepat sekali menipis, membuat proses produksi terburu-buru dan luput dari pengecekan kualitas. “Tenang saja, pasti sampai” itulah kata-kata andalan mereka. Mindy Egia seorang mahasiswi Politeknik Negeri Jakarta, sebagai salah satu korban kelalaian online shop mengatakan, “Aku pernah beberapa kali belanja di satu olshop yang sudah kupercaya, tapi entah kenapa koleksinya saat itu benar-benar jelek. Mungkin karena dia kejar setoran atau apa. Kualitasnya semakin kesini semakin menurun parah. Akhirnya aku kapok tidak mau lagi belanja di sana.”

Bagaimana menyikapinya? Ketelitian dan keyakinan. Lakukan pengecekan review dan rating berkali-kali, walaupun kita sering kali belanja pada online shop tersebut. “Dari kita sendiri harus teliti, perkaya pengetahuan dan informasi akan produk sebelum membeli,” kata Afina pebriany, mahasiswi Universitas Gunadarma yang menyatakan diri sebagai pembeli yang selektif.

Kita harus teliti akan detail, pastikan detail produk sesuai dengan kebutuhan kita. Sebelum membeli, tak ada salahnya memastikan kondisi produk pada customer service atau admin dari online shop yang telah dipilih. Abaikan saja keterangan mengenai “chat yang akan dibalas adalah yang sesuai dengan format”. Hei! Kita adalah pembeli, memastikan kondisi itu adalah hak, dan online shop yang telah dipilih itu pun belum tentu tak akan memberi respon. Bagaimana jika mereka tidak memberi respon? Cari online shop lain, dengan hal itu memudahkan kita untuk mengetahui kualitas online shop tersebut. Apabila terlanjur menerima produk dengan kualitas yang mengecewakan, jangan ragu untuk memberi kritik pada online shop tersebut agar mereka memperbaiki kesalahannya dan tak ada lagi pelanggan yang kecewa.

Pelayanan adalah prinsip nomor satu dalam berbelanja. Buang jauh-jauh rasa takut dan rasa terintimidasi hanya karena online shop tersebut memiliki nama besar. Mereka tak akan maju jika tak ada pembeli. Selain itu, apabila kita memiliki waktu luang, utamakan belanja secara langsung dengan mengunjungi toko di sebuah pusat perbelanjaan.

Keyakinan juga menjadi hal yang penting. Yakin akan kualitas, harga, dan kebutuhan. Hindari membeli barang dengan jumlah berlebih hanya karena iming-iming menghemat biaya kirim ataupun diskon besar-besaran.

Jadilah pembeli yang bijak dengan mengurangi sikap konsumtif, agar kita menyadari keinginan, atau kebutuhan yang harus kita utamakan. Perilaku konsumtif dalam suatu masyarakat dapat menjadi penyebab perekonomian masyarakat tersebut memburuk. Budayakan membeli produk lokal agar kita ikut berpartisipasi dalam kemajuan ekonomi masyarakat Indonesia. [Aldi Putra/PNJ]

Comments

comments