Jumat , Desember 14 2018
Home / Ekonomi & Bisnis / Mengenal Aplikasi Tabarru’ pada Asuransi Syariah dan Modifikasi dalam Penerapannya

Mengenal Aplikasi Tabarru’ pada Asuransi Syariah dan Modifikasi dalam Penerapannya

Ilustrasi. (Istmewa)

Industri Asuransi Syariah atau sering disebut dengan Takaful, pada dekade terakhir menarik perhatian masyarakat saat ini. Takaful ini tidak hanya menarik perhatian negara-negara muslim saja, akan tetapi negara non-muslim juga meliriknya. Meskipun pertumbuhannya pesat, akan tetapi asuransi syariah masih menghadapi perdebatan terkait ke-syariahannya. Oleh karena itu, disini akan dibahas mengenai hal-hal yang mendasar tentang asuransi syariah itu sendiri.

Anda yang masih bingung apakah asuransi syariah itu sudah syariah? Maka kita lihat disini. Hal yang membedakan antara asuransi syariah atasu sebut saja takaful dengan asuransi konvensional adalah konsep dasar dan kontrak yang digunakan. Konsep dasar dari asuransi konvensional adalah pertukaran. Pertukaran antara premi yang dibayarkan dengan risiko yang ditanggung dimasa depan, sehingga muncullah riba, gharar dan maisyir. Karena pada dasarnya risiko yang akan datang itu belum tentu terjadi sedangkan premi sudah pasti telah dilaksanakan.

Sedangkan konsep dasar dari asuransi syariah adalah tabarru’, yang artinya premi atau sering disebut kontribusi itu menjadi dana kebajikan milik peserta kolektif. Disini tidak ada unsur yang dinamakan gharar, maisyir apalagi riba. Karena kontribusi yang dibayarkan bersifat sukarela diberikan kepada orang lain, tanpa mengharapkan imbalan apa pun sebagai imbalan. Kedua adalah dalam hal kontrak yang digunakan. Dalam takaful ada tiga kontrak atau model diantaranya adalah model mudharaba, wakalah dan hybrid.

Mudharabah adalah akad kerjasama dimana satu pihak menyediakan modal sementara pihak lain menawarkan keterampilan dan kewirausahaan. Apabila ada keuntungan, maka akan dibagi berdasarkan persentase yang telah disepakati diawal. Sedangkan saat ada kerugian, maka akan ditanggung sepenuhnya oleh penyedia modal sedangkan pengelola dana hanya menanggung kerugian usaha dan tenaga kerja.

Pada takaful kontribusi yang dibayarkan akan dibagi menjadi dana tabarru’ dan dana investasi. Apabila ada surplus atau kelebihan dari dana tabarru tersebut, maka itu sepenuhnya milik peserta kolektif. Perusahaan sebagai pengelola hanya mendapatkan keuntungan dari dana yang diinvestasikan. Itu merupakan model awal dari akad mudharabah sebelum adanya modifikasi. Setelah adanya modifikasi, pengelola bukan hanya mendapatkan keuntungan dari investasi saja, akan tetapi dari surplus dana tabarru juga.

Model kedua adalah model wakalah. Dimana perusahaan menjadi wakil dari peserta asuransi (muwakil). Seperti pada umumnya dalam hal kontribusi, kontribusi tersebut dibagi menjadi dua. Yaitu sebagai dana tabarru dan dana investasi. Pengelola atau perusahaan hanya mendapatkan ujroh atau upah dari mewakilkan dana peserta tersebut. Akan tetapi setelah dimodifikasi, pengelola tidak hanya mendapat ujroh saja, akan tetapi ia mendapat upah dari investasi atas kinerja perusahaan.

Model yang terakhir adalah model hibryd atau model penggabungan antara wakalah dengan mudharabah. Kontrak mudharabah diterapkan untuk menunjukkan posisi takaful operator sebagai pengelola “dana investasi peserta”, sedangkan kontrak wakalah digunakan untuk membenarkan posisi takaful Operator sebagai penjamin “dana tabarru peserta”. Sebagai pengelola akan menikmati porsi keuntungan berdasarkan rasio yang disepakati untuk investasi dana, sementara sebagai penjamin berhak untuk biaya atau ujroh yang telah ditentukan pada awal akad. Dalam asuransi syariah masih ada hal-hal atau isu yang sering menjadi perdebatan. Adapun isu tersebut mengenai akan tabarru dan penerapan surplus underwriting. Akan tetapi dalam hal riba, gharar dan maisyir, itu bukanlah hal yang perlu diperdebatkan lagi. Sudah jelas itu merupakan hal yang diharamkan Allah SWT apabila diterapkan dalah kegiatan apapun. [Silvi Puja Sari/STEI SEBI]

Comments

comments