Kamis , Desember 13 2018
Home / Feature / Menanti “Angin Segar” Untuk Rohingya

Menanti “Angin Segar” Untuk Rohingya

Anak-anak Rohingya. (Istimewa)

Berdirinya perjanjian Hudaibiyah pada tahun 6 H memberikan kesempatan bagi para suku untuk bersekutu dengan suku lainnya yang mereka sukai. Maka suku Khuza’ah bersekutu dengan kaum muslimin dan suku Bikr bersekutu dengan suku Quraisy. Pencedaraan terhadap perjanjian hudaibiyah yang dilakukan oleh suku Bikr dan Quraisy terhadap Khuza’ah dengan pembantaian yang membuat perjanjian itu terkhianat sehingga mengundang kemarahan Rasul Saw dan kaum muslimin. Maka Rasul Saw membawa tentara kaum muslimin untuk membebaskan suku Khuza’ah. Peristiwa ini terkenal dengan sebutan Fathu Makkah.

Kalau kita kaitkan dengan zaman sekarang, berkaca terhadap pembantaian etnis muslim rohingya oleh kaum Budha laknatullahu alaihim. Sebenarnya kalau melihat sejarah Myanmar pada saat kaum Muslimin memimpin, kaum Budha tidak mendapatkan gangguan ataupun ejekan dan sejenisnya. Namun ketika kaum Budha menguasai Myanmar, mereka mengasingkan kaum Muslimin ke Rakhine bahkan membantai habis kaum Muslimin tanpa amnesty selama seratus tahun lamanya. Kali ini saya tidak akan membahas sejarahnya secara detail, sekarang kita tinjau dari segi hukum.

Melihat dan mengamati keadaan umat Islam di Rohingya saat ini membuat kita sedih dan tak nyaman. Bagaimana tidak, konsep keadilan hukum yang diagungkan dalam untaian kata Human Right seakan sudah tidak berlaku bagi mereka bahkan pihak PBB pun tak turun tangan menumpas ketidakadilan itu. Mana hukum jenewa yang diidamkan oleh dunia yang katanya melindungi masyarakat sipil?

Seharusnya ketika ada pengkhianatan terhadap hokum maka pihak yang berwenang harus mengadilinya, contohnya ketika pengkhianatan yang dilakukan kaum Bikr terhadap kaum Khuza’ah pada perjanjian maka pihak berwenang, kaum Muslimin langsung menghukum kaum Bikr dan Quraisy, yang disebutkan sejarah fathu makkah. Udara segar itu tak terhirup lagi bahkan ia sudah menjadi kotor dan tercemar. Mereka tak memikirkan masyarakat yang tersiksa karena rezim yang katanya mengagungkan Human Right, Rohingya hanya sebagai tontonan drama wayang golek yang menyenangkan. Miris memang bagi yang pecinta udara segar namun dihirup dengan hidung yang penuh noda dan darah. (Nurwahid)

Comments

comments