Kamis , Desember 13 2018
Home / Opini / Membakar Sampah Merusak Lapisan Ozon

Membakar Sampah Merusak Lapisan Ozon

Ilustrasi. (Istimewa)

Hari Ozon International yang jatuh pada tanggal 16 September 2018, mengangkat tema “Keep Cool & Carry On : The Montreal Protocol”. Tujuan tema tersebut adalah mendesak semua individu untuk menjaga iklim tetap sejuk dan melanjutkan pekerjaan protokol Montreal yaitu melindungi lapisan ozon dan mempercepat aksi untuk menghindari goncangan perubahan iklim.

Bahan perusak ozon (BPO) masuk Indonesia terutama digunakan dalam industry manufaktur AC/refrigerasi, industry busa dan membantu daya semprot peralatan kosmetik. Sejauh ini Indonesia telah berhasil menghentikan konsumsi beberapa BPO, yaitu Chlorofluorocarbon (CFC), Tetrachloride (CTC) methylchloroform (TCA) melalui regulasi, kebijakan nasional, serta pengawasan impor. Indonesia juga telah menghapus konsumsi CFC lebih cepat dua tahun dari pada target Protokol Montreal. Sedangkan konsumsi Hydrochloroflourocarbon (HCFC) akan dikurangi bertahap dengan HCFC Phase-out Management Plan (HPMP) sampai 2018.

Namun terkait ozon, PR Indonesia tidak berhenti sampai pelarangan BPO saja. Karbon monoksida (CO) juga mempunyai peran penting dalam siklus pembentukan ozon terutama dalam skala yang luas di atmosfer bebas. Selain bersumber dari emisi asap knalpot kendaraan dan asap pabrik, CO juga dihasilkan dari pembakaran sampah. Menurut Supriyono, Dari setiap 1 ton sampah berpotensi menghasilkan 30 kg CO.

Menurut data KLHK, rata-rata timbulan sampah pada area urban secara nasional sebesar 175.000 ton per hari atau setara 64 juta ton pertahun. Hampir separuhnya bersumber dari rumah tangga. Dan menurut penelitian Jenna R Jambeck yang dipublikasikan di Science Magazine menyebutkan, bahwa selama ini Indonesia sudah menghasilkan sampah plastik sebesar 187,2 juta ton. Jumlah ini menjadikan Indonesia sebagai negara penyumbang sampah plastik kedua terbesar di dunia setelah RRT. Bisa dibayangkan berapa banyak gas CO yang dihasilkan setiap tahunnya dari proses pembakaran sampah.

Pembakaran sampah terutama plastik menghasilkan gas berbahaya, diantaranya dioxin dan furan. Apabila gas tersebut tidak sengaja terhirup dalam jumlah tertentu, akan berbahaya bagi kesehatan mulai dari gangguan pernapasan, kanker bahkan sampai penyebab kematian. Selain CO yang menipiskan lapisan ozon, sisa pembakaran sampah juga menghasilkan CO2 yang merupakan emisi penyebab gas rumah kaca (GRK).

Sayangnya, pengetahuan tersebut tidak dimiliki oleh masyarakat, atau tingkat kepedulian masyarakat yang rendah. Terbukti dari hasil survei BPS pada 2013 dan 2017, persentase rumah tangga yang membakar sampah tidak berubah, yaitu sebesar 53 persen total rumah tangga. Angka tersebut menunjukkan perilaku masyarakat tidak berubah, dan mengindikasikan bahwa membakar sampah sudah menjadi kebiasaan masyarakat, dan mungkin sulit berubah.

Membakar sampah sudah dilarang dalam UU Pengelolaan Sampah No.18/2008 yang berisi kewajiban mengelola sampah rumah tangga dengan cara yang berwawasan lingkungan. Pasal 29 menyebutkan bahwa setiap orang dilarang membakar sampah yang tidak sesuai dengan persyaratan teknis pengelolaan sampah. Sanksi pidana kurungan atau denda dapat diberikan atas tindakan pembakaran sampah yang diatur dalam peraturan daerah. Berbagai kota besar sudah menerapkan peraturan terkait pelarangan membakar sampah, namun upaya tersebut masih sangat minim pengawasan dari pemerintah setempat.

Sebenarnya ada cara pembakaran yang tidak menimbulkan dioksin yaitu menggunakan mesin insinerator. Mesin tersebut untuk penanganan bahan plastik dan bahan berbahaya seperti limbah medis yang dibakar dengan suhu tinggi (sampai 1000oC). Namun insinerator sangat mahal dan mustahil dilakukan di rumah tangga. Lalu bagaimana solusi mengurangi sampah rumah tangga tanpa membakar?
Upaya Mengurangi Sampah

Keberhasilan penanganan sampah selama ini diukur dari pencapaian target volume sampah terkelola atau tangani. Dilihat juga dari realisasi pembangunan fasilitas, teknologi serta sarana prasarana penunjang aktivitas penanganan sampah. Namun persoalan sampah tidak cukup hanya ditakar dengan realisasi, tapi lebih dibutuhkan sistem dan perubahan perilaku yang tepat.
Konsep 3R (Reduce-Reuse-Recycle) bisa menjadi solusinya. 3R merupakan paradigma pengelolaan sampah oleh masyarakat yang sederhana dan ramah lingkungan. Metode tersebut menekankan kepada tingkat perilaku konsumtif masyarakat serta perlakuan terhadap barang tidak terpakai yang berbentuk sampah.

BPS mencatat beberapa perilaku rumah tangga dalam menerapkan 3R. Upaya rumah tangga mengurangi (reduce) timbulan sampah plastik dengan membawa kantong belanja sendiri saat berbelanja meningkat hampir 2 kali lipat dari 2013. Satu dari tiga rumah tangga Indonesia masih memanfaatkan kembali (reuse) barang bekas layak pakai untuk keperluan lain. Sementara, separuh rumah tangga di Indonesia memberikan barang bekas layak pakainya ke orang lain. Secara nasional ada sekitar 7 persen rumah tangga melakukan proses pengomposan dan daur ulang (recycle). Daur ulang lebih banyak dilakukan di perkotaan, sebaliknya karena tingginya komposisi sampah organik, pengomposan banyak dilakukan di perdesaan. Program pemerintah terkait pengkomposan sampah sangat mungkin diterapkan di perdesaan.

Informasi diatas menunjukkan membaiknya perilaku 3R masyarakat selama kurun waktu 2013-2017. Upaya pemerintah melalui kegiatan membangun pusat daur ulang, sarana dan prasarana bank sampah dan pembangunan fasilitas pengomposan menjadi biomassa dinilai cukup berhasil dan layak dilanjutkan. 3R diharapkan bukan hanya sebatas konsep perilaku namun juga mampu mengakar kuat menjadi kebiasaan dan pada akhirnya menjadi budaya baik yang menggeser kebiasaan buruk di masyarakat.

We cannot hope to create a sustainable culture with any but sustainable souls (Derrick Jensen).

Penulis : Pramudya Ajeng
Penulis adalah Statistisi Pada Badan Pusat Statistik, Subdirektorat Statistik Lingkungan Hidup.

Comments

comments