Selasa , Desember 11 2018
Home / Ekonomi & Bisnis / Isu dan Tantangan Kompetensi Auditor Syariah di Indonesia

Isu dan Tantangan Kompetensi Auditor Syariah di Indonesia

Ilustrasi. (Istimewa)

Sejak lahirnya bank Islam pertama di Indonesia pada tahun 1992, semakin banyak peningkatan untuk layanan perbankan syariah permintaan dari para konsumen. Sementara kebutuhan tenaga kerja diperbankan syariah masih belum cukup. tantangan utama nya adalah ketidakcocokan antara apa yang diperlukan oleh bank dan apa yang ditawarkan oleh pasar.

Sebuah studi empiris yang lebih baru mengungkapkan bahwa sebagian besar auditor syariah yang baik adalah yang sudah terlatih dalam syariah atau ilmu tentang audit. Memang ada kebutuhan yang mendesak untuk menyusun persyaratan kompetensi yang akan mencakup pengetahuan, keterampilan dan karakteristik (KSOC), agar persyaratan untuk memastikan SDM yang cukup dari auditor syariah yang kompeten untuk memenuhi permintaan pasar. Karya tulis ini mengusulkan sebuah model KSOC baru sebagai dasar untuk kerangka kompetensi auditor syariah yang dapat menegakkan keefektifan fungsi mereka dalam sistem perbankan syariah.

Kompetensi Umum Para Audit Syariah

Peranan audit dalam sebuah lembaga keuangan khususnya perbankan menjadi hal yang sangat penting karena dapat membantu lembaga keuangan dalam mencapai tujuannya dengan menerapkan pendekatan yang sistematis untuk mengevaluasi dan meningkatkan efektivitas proses pengelolaan risiko kecukupan pengendalian dan proses tata kelola. Hal ini dianggap sebagai alat untuk mengatasi perubahan organisasi di mana tugas menuntut hal-hal baru dan pengembangan teknologi membutuhkan karyawan yang ahli dibidangnya untuk terus memperbarui pengetahuan dan pelatihan, sedangkan pendapat yang lainnya, di sisi lain menemukan bahwa kompetensi kecerdasan kognitif ditambah dengan emosi dan sosial kecerdasan masing-masing dapat memprediksi efektivitas profesional, manajemen dan kepemimpinan peran dalam masyarakat.

Audit yang sukses tergantung pada kekuatan sumber daya manusia seperti memiliki keahlian yang kompeten dan kredibel untuk mengatur rencana kerja dan meninjau hasilnya. Ada juga kebutuhan yang kuat untuk pelatihan yang tepat pada konsep Syariah karena sebagian besar petugas bank berasal dari latar belakang konvensional, sehingga mereka tidak mengerti bagaimana menerapkan konsep syariah dan cara memberikan penjelasan salah satu produk perbankan kepada para Nasabah mereka. (Abdul Rahman, 2006). Oleh karena itu, ada tantangan bagi para sarjana dan akademisi untuk memastikan lulusan akuntansi saat ini serta masa depan yang belajar tentang pengetahuan audit syariah.

Persyaratan Untuk Kompetensi Auditor Syariah

Pengetahuan secara umum merujuk kepada pemahaman dasar tentang seseorang atas sesuatu informasi atau proses tertentu. Pengetahuan yang diperoleh untuk auditor Syariah dapat dikategorikan menjadi dua jenis yaitu Umum dan pengetahuan khusus. Pengetahuan umum diperoleh dengan memiliki pendidikan formal. Sekolah atau universitas memberikan kontribusi dalam menghasilkan lulusan jurusan berbagai disiplin ilmu yang berkaitan dengan kebutuhan sumber daya manusia dalam perbankan syariah, Pengetahuan khusus untuk mengembangkan kompeten Syariah auditor adalah dalam bentuk pelatihan di lembaga-lembaga pelatihan lokal. Seperti muamalat institute dan LPPI (Latihan Lemabaga Pengembangan Perbankan Indonesia)

Auditor internal melalui Institute of Internal Auditor Research Foundation (IIARF) juga telah melakukan survei di seluruh dunia untuk menentukan tubuh mereka umum pengetahuan (CBOK) pada tahun 2006 dan 2010 atas auditor internal untuk mendokumentasikan bagaimana internal Audit adalah dipraktekkan dari yang salah satu bidang fokus adalah pengetahuan auditor internal (IIARF, 2010). Lima (5) bidang-bidang pengetahuan yang berkaitan dengan kompetensi untuk melakukan pekerjaan untuk auditor internal yang diidentifikasi oleh CBOK adalah audit, etika, penipuan kesadaran, standar audit internal dan pengetahuan teknis industri.

Karakteristik lain mengacu pada faktor perilaku seseorang yang bisa menjadi suatu sifat dan tentu berbeda antara individu (Hoffman et al., 2010). Tahap perekrutan untuk junior syariah auditor akan mampu melacak sifat-sifat tertentu dari kandidat yang potensial melalui tes psikologi yang merupakan proses normal bagi banyak organisasi yang mengnginkan kandidat terbaik untuk pekerjaan profesional. karakteristik tersebut dapat dibangun melalui dua tahap yaitu, pelatihan berkesinambungan pada analisis dan interpersonal skill seperti identifikasi masalah dan pemecahan keterampilan, kemampuan komunikasi verbal dan tertulis. Secara umum, integrasi tiga unsur-unsur ini sama-sama berpendapat untuk dapat menghasilkan auditor syariah yang kompeten, terlepas apakah orang tersebut auditor eksternal atau internal untuk lembaga keuangan Islam.

Sebuah kompetensi dari auditor syariah harus terlebih dahulu memiliki pengetahuan khusus dan umum di syariah, audit dan fiqh muamalat dalam rangka untuk melakukan pengecekan tertentu atas dokumentasi di bank, bahwa mereka bekerja. Saat ini, pengetahuan umum yang diperoleh melalui pendidikan universitas tidak cukup, karena universitas menawarkan pendidikan Audit syariah sebagai bagian dari kurikulum lulusan. (Ayu Nafilah Tafsirul Filiyah)

Referensi : Journal of Islamic Finance, Vol. 4 No. 1 (2015) 022 – 030. IIUM Institute of Islamic Banking and Finance

Comments

comments