Kamis , Desember 13 2018
Home / Feature / Industri Kreatif dalam Menopang Pariwisata Syariah

Industri Kreatif dalam Menopang Pariwisata Syariah

Ilustrasi, wisata syariah di Banyuwangi. (Foto: merdeka.com)

Pariwisata syariah lebih dimaknai sebagai wisata reliji, yaitu kunjungan-kunjungan ke tempat ibadah untuk berziarah atau tempat-tempat ibadah lainnya. Padahal, pariwisata syariah tidak terfokus pada objek saja, tetapi adab perjalanan dan fasilitas lainnya. Pariwisata syariah memberikan makna kepada masyarakat bahwa masyarakat muslim harus ber-Islam dimanapun dan kapan pun. Menurut Utilizing the World Tourism Organization (UNWTO) menunjukkan bahwa wisatawan muslim mancanegara berkontribusi 126 miliar dolar AS pada 2011. Menurut data Global Muslim Traveler, wisatawan muslim Indonesia masuk dalam 10 besar negara yang paling banyak berwisata. Namun, Indonesia tidak termasuk dalam 10 tempat destinasi kunjungan muslim. (Utomo, 2014). Bahkan, Kementerian pariwisata dan Ekonomi Kreatif memprediksi tahun 2019 industri pariwisata mampu melampaui sektor migas sebagai penghasil devisa terbesar dengan nilai US$24 Miliar. Halal tourism yang saat ini sedang gencar di garap oleh NTB pun menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas dari segala aspek. Khususnya dari konsep syariah.

Pariwisata Halal di Indonesia, sesuai dengan fatwa Dewan Syariah Nasional (DSN) MUI menerbitkan Fatwa nomor 108/DSN-MUI/X/2016 tentang pedoman penyelenggara pariwisata berdasarkan prinsip syariah yang menjadi landasan standarisasi aspek-aspek wisata halal. Terlebih, aturan mengamanatkan usaha yang dijalankan dengan prinsip syariah, harus memiliki landasan fatwa DSN MUI termasuk perusahaan terbatas.

Hal ini tentu menjadi salah satu upaya Indonesia dalam terus menggencarkan pariwisata halal. Karena dukungan media untuk meningkatkan informasi masyarakat dalam wisata halal harus dapat dimanfaatkan dengan baik. Pengemasan dan pengembangan pariwisata juga harus secara nyata dilakukan agar memiliki nilai tambah pada wisatawan.

Dalam menopang pariwisata syariah tersebut, bukan hanya sisi tempat yang syariah. Namun, dapat meliputi semua aspek yang sesuai denga fatwa DSN MUI. Mulai dari pramuwisatawan, biro perjalanan, konsumsi halal, dan lain sebagainya. Untuk memberikan nilai tambah dalam hal tersebut dapat memanfaatkan Potensi Industri Kreatif lokal Indonesia.

Industri kreatif adalah Industri yang berasal dari pemanfaatan kreativitas, keterampilan, serta bahkan bakat individu untuk menciptakan kesejahteraan serta lapangan pekerjaan dengan menghasilkan dan mengeksploitasi daya kreasi dan daya cipta individu tersebut. (Indonesia Kreatif, 2014) dengan adanya Pariwisata syariah yang memerlukan proses kreatif dari berbagai stakeholder ini tentu dapat di manfaatkan dalam pengembangannya.

Pertama, Industri kreatif dapat mengembangkan potensi pariwisata syariah. Dilihat dari berbagai aspek konsumsi halal, biro perjalanan, restoran syariah, spa syaraih dan penyediaan lainnya. Kedua, memberikan pengenalan kepada wisatawan terkait budaya dan kreasi anak bangsa yang sajikan dalam bentuk islami. Ketiga, Industri kreatif juga dapat memberikan peluang bisnis bagi para pelaku ekonomi yang sesuai dengan aturan agama.

Permintaan masyarakat muslim yang bukan hanya mengacu pada tempat destinasi syariah ini, namun juga dalam berbagai aspek. Seperti dalam rumah sakit syariah, restoran syariah dan lain sebagainya. Tentunya ini hal ini dapat di manfaatkan dengan adanya Industri kreatif. Namun, tentunya sosialisasi kepada masyarakat bahwa Industri Kreatif dalam menopang pariwisata syariah ini dapat memberikan dampak baik masyarakat. bukan hanya membuka peluang bisnis namun juga memberikan edukasi terhadap pariwisata syariah ini ke seluruh lapisan masyarakat. pengelolaan publikasi yang komprehensif juga harus dilakukan secara berkesinambungan. Mulai dari anak-anak sampai masyarakat dewasa. Media social online saat ini menjadi salah satu penggiring pembentukan opini yang sangat signifikan. Dimana, sebagian masyarakat mengetahui pariwisata syariah dari berbagai media social. Maka dari itu, media disini sangat berperan penting dalam pengoptimalisasian industri kreatif dalam menopang pariwisata syariah. (Reni Marlina)

Comments

comments