Kamis , Desember 13 2018
Home / Uncategorized / Generasi Tanpa Rasa Malu

Generasi Tanpa Rasa Malu

Seiring dengan kemajuan zaman dan teknologi yang kian canggih, memaksa manusia setiap individu menyesuaikan diri dengan apa yang disebut moderenisasi. Kemunculan teknologi baru seakan selalu beriringan dengan konsekuensi negatifnya yang menyertainya.

Salah satu dari sekian banyak konsekuensi tersebut adalah konsekuensi moral, yang belakangan menjadi keresahan tersendiri bagi pihak-pihak yang perduli akan persoalan tersebut. Generasi yang menamai dirinya “Generasi zaman now” generasi yang justru kebablasan dengan segala aplikasi joged dan popularitas instan. Mereka yang sama sekali tidak merasa salah dan janggal atas hal yang mereka lakukan, adalah genersi yang mulai kehilangan rasa malunya.

Coba sejenak bayangkan, masa depan seperti apa yang ingin dibangun dengan generasi semacam itu? Baiklah, kita jangan dulu berbicara tentang Agama. Bahkan kaum paling sekuler saja miris dengan genersi seperti ini. Lantas apa yang salah? Adalah dengan tersingkapnya selimut dan perisai rasa malu pada diri manusia.

Malu adalah akhlak yang mencerminkan keagungan, pemilik Sifat mulia ini hanya orang mulia seperti Nabi Muhammad SAW dan Utsman bin Affan.

“Malu adalah moral yang selalu mendatangkan kebaikan, ketenangan dan ketentraman. (H.R Bukhari)”.

Dengan rasa malu, seseorang akan menjaga dirinya tetap di atas koridor agama dan masyarakat. Dengan itu ia tidak akan berbuat segala sesuatu seenaknya.

Rasulullah SAW bersabda “Berbuatlah sesukamu, jika tidak ada rasa malu. (H.R Ahmad)”.

Rasulullah mengajarkan agar umatnya senantiasa memiliki rasa malu. Bahkan beliau menyebutkan malu itu sebagian dari konsekuensi iman. Dan bagian dari rasa malu adalah dengan tidak menampakkan perbuatan yang tidak selayaknya di depan umum.

Malu adalah salah satu tanda kebersihan hati dan kesehatan jiwa seseorang. Sifat malu memiliki kedudukan yang sangat agung dalam syariat Islam, terutama bagi kaum wanita. Apabila seorang wanita tidak lagi memiliki rasa malu atau kurang rasa malunya, maka kerusakan akan terjadi di muka bumi ini. Nauzubillah..

Sungguh rasa malu merupakan tameng bagi seseorang dari perbuatan buruk. Wajib bagi kita untuk mempelajari sebab – sebab yang dapat menumbuhkan rasa malu, agar kita menjadi manusia yang menghiasi diri dengan sifat malu baik ucapan dan perbuatan. Dengan :

  1. Berusahalah untuk menjaga iffah dan Izzah sebagai muslim

Adalah dengan tidak berbuat dosa, seperti mempertontonkan aurat. Padahal Alah itu maha melihat, tidak ada yang meleset sedikitpun dari pandangan Allah.

  1. Jaga tingkah kita ! Tanamkan rasa malu di hadapan Allah

Dunia ini tempat menabung amal perbuatan kita semasa hidup. Berusahalah agar menjaga setiap tingkah laku kita di hadapan sang Khaliq.

  1. Cukup Rasulullah SAW yang menjadi idola sepanjang masa

“Sungguh pada diri Rasulullah itu terdapat suri tauladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap Rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat dan dia menyebut nama Allah.”

Rasulullah SAW adalah tauladan sepanjang masa, bukan hanya umat Islam yang mengidolakan beliau, bahkan seorang cendekiawan non muslim Michael Heart menempatkan Rasulullah menjadi sosok yang paling berpengaruh dalam sejarah dan perkembangan dunia. Maa Syaa Allah..

Sungguh kesadaran dan rasa malu kepada Allah adalah hal penting yang harus dimiliki semua orang, baik pemimpin maupun rakyat, orang kaya maupun miskin, tua dan muda. Karena rasa malu inilah yang akan melindungi manusia dari kerusakan. Tanpa rasa malu, orang tidak akan canggung lagi berbuat dosa, sehingga kemaksiatan akan tersebar dimana-mana. Nauzubillah..

Maka dari itu marilah kita memupuk rasa malu kepada Allah. Mudah-mudahan kita semua termasuk kedalam golongan orang-orang yang selalu malu kepada Allah. Amin Allahuma Aamiin. (Dinar Rahmayanti)

Comments

comments