Kamis , Desember 13 2018
Home / Ekonomi & Bisnis / Esensi Penguatan Spiritualistas SDM Dalam Bisnis Syariah

Esensi Penguatan Spiritualistas SDM Dalam Bisnis Syariah

Ilustrasi. (Istimewa)

Eksistensi Bisnis Syariah mulai diperhitungkan sebagai alternatif model ekonomi yang bisa dijalankan saat ini, bahkan tidak hanya dijadikan alternatif, melainkan solusi terhadap krisis ekonomi yang mendera dunia. Barat yang selama beberapa dekade setia dengan sistem ekonomi kapitalis harus menerima kenyataan pahit dengan diterjang krisis ekonomi yang sulit dipulihkan.

Kondisi perekonomian dunia yang anjlok menyadarkan orang untuk beralih pada Bisnis Syariah, pertumbuhan Ekonomi Syariah beberapa tahun terakhir cukup mendongkrak pertumbuhan Bisnis Syariah di Indonesia baik dalam lingkup Usaha Kecil Menengah (UKM), pengusaha besar, bahkan lingkup pemerintah mulai melirik bisnis syariah. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya usaha syariah yang berdiri dibawah bendera naungan mereka.

Geliat Bisnis Syariah yang semakin menuju titik terang, tidak luput dari kesabaran para pelaku bisnis syariah untuk komitmen dalam menjalankan usahanya. Seiring dengan bertambahnya jumlah orang yang memahami ajaran islam secara kaffah, bahwa kegiatan bisnis termasuk dalam kerangka ibadah kepada Allah SWT.

Sejak adanya tren halal lifestyle, para pelaku bisnis menemukan peluang yang menggiurkan dengan melihat pangsa pasar bisnis syariah yang semakin melonjak. Para pelaku bisnis dan investor berlomba menanamkan modalnya pada sektor bisnis syariah baik itu sektor keuangan maupun sektor riil. Bahkan bisnis yang sudah berjalan banyak yang mulai mendaftarkan usahanyan untuk mendapatkan sertifikasi halal, demi memenangkan persaingan.

Data statistik menyebutkan pada tahun 2014 jumlah perusahaan yang bersertifikasi halal berjumlah 10.762 mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya yaitu 2013 sebanyak 9.721 perusahaan dan diprediksi akan meningkat setiap tahunnya (sumber : daftar produk terregistrasi BPOM RI Dirjen Bimbingan Masyarakat Islam)

Namun di Indonesia sendiri masih banyak PR besar untuk memasyarakatkan bisnis syariah, dalam beberapa perusahaan, tren Bisnis Syariah seolah hanya embal-embel semata demi mengikuti perkembangan zaman dan tidak memperhatikan aspek yang paling penting yaitu pengelolaan Sumber Daya Manusia sehingga esensi Bisnis Syariah yang tercantum belum mencerminkan kesyariahan yang sesungguhnya.

Sumber daya manusia merupakan asset perusahaan yang paling penting. Oleh karena itu meningkatnya pertumbuhan Bisnis Syariah harus didukung dengan pengelolaan Sumber Daya Insani yang matang dan tepat, guna mengasilkan Sumber Daya Insani yang handal dan berkompeten. Karena baik dan tidaknya pengelolaan SDM akan berdampak besar pada kinerja karyawan.

Dalam menjalankan bisnis syariah, tidak hanya membutuhkan sumberdaya manusia yang unggul. Namun juga sudah saatnya pertumbuhan bisnis syariah ini didukung oleh sumber saya manusia yang syariah. Untuk mewujudkan hal tersebut dapat dimulai dengan mengaplikasikan karakter spiritualitas pada budaya organisasi diperusahaan. Sebagai contoh ; menetapkan kualifikasi karyawan yang berkarakter syariah, budaya shalat dhuha, menghentikan seluruh aktivitas pekerjaan ketika waktu shalat, berpakaian syar’i dan lain sebagainya.

Dalam bukunya Wahfrudin Sakarn yang berjudul “Come” ada suatu penelitian menyebutkan Tahun 1957, Standard & Poors sebuah perusahaan pemeringkat saham dan obligasi di Amerika- menyusun daftar 500 perusahaan terbaik. Selang 49 tahun kemudian (2003) dari 500 hanya tersisa 74 perusahaan, artinya 84% nya menghilang. Mengapa itu terjadi? Hal itu disebabkan maraknya pelanggaran terhadap prinsip-prinsip moral dalam instansi.

Dalam beberapa penelitian menyebutkan, bahwa pengaruh spiritualitas memiliki pengaruh positif terhadap kinerja karyawan. Artinya pengelolaan sumber daya manusia dengan konsep syariah memiliki dampak yang signifikan bagi peningkatan kinerja karyawan, integritas dan kejujuran. Sehingga akan lebih terintegrasi dengan perusahaan dan berdampak positif terhadap profitabilitas perusahaan.

Sebagai seorang manajer maupun pelaku bisnis, dalam menjalankan bisnis syariah sudah seharusnya manajemen sumber daya insani dikelola dengan konsep syariah, agar terdapat kesesuaian yang lebih konkret antara penerapan bisnis syariah dengan Manajemen Sumber Daya Insani yang syariah. (Lina Herlina)

Comments

comments