Selasa , Desember 11 2018
Home / Ekonomi & Bisnis / Bisnis Berkah dengan SDM Islami

Bisnis Berkah dengan SDM Islami

Banyak bermunculan bisnis – bisnis yang berlandaskan syariat islam di Indonesia, mereka yang mengakui bisnisnya berlandaskan syariat islam tetapi dalam pelaksanaannya sering kali ditemukan nilai – nilai yang justru jauh bahkan keliru dari syariat islam, baik itu dalam transaksinya, pengelolaan dananya juga salah satunya terkait dengan sumber daya insaninya.

Berbicara tentang dunia bisnis tidak akan ada habisnya. Di Indonesia saja tak terhitung ada berapa banyak produk bisnis dari mulai financial, kuliner, fashion, otomotif, hand made, properti dan yang lainnya. Bisnis juga sudah dilakukan oleh banyak kalangan dari orang dewasa hingga anak muda tak heran ada beberapa fenomena anak muda yang omsetnya sudah mencapai puluhan bahkan ratusan milyar.

Sebagai seorang muslim, memandang dunia bisnis hendaknya kita memahami betul bagaimana bisnis yang disyariatkan oleh islam. Rasulullah SAW adalah pelopor bisnis yang berdasarkan pada prinsip kejujuran, adil dan sehat. Prinsip – prinsip beliau diimplementasikan oleh para pebisnis modern sejak abad ke 20. Pakar manajemen bisnis terkemuka di Indonesia, Rhenald Kasali mengakui bahwa semua bisnis yang diinginkan akan sukses jika menduplikasi karakter Muhammad SAW dalam berbisnis.

Salah satu dari sekian banyak produk bisnis di Indonesia yang prospeknya tinggi adalah bank, data dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), total aset bank umum syariah dan unit usaha syariah di Indonesia mencapai Rp 344,2 triliun, naik dari tahun 2015 sebesar Rp 296,2 triliun.

Januari 2017, total kantor bank umum syariah dan unit usaha syariah mencapai 1.966 kantor, turun dari tahun 2015 sebanyak 2.301. Sedangkan total pegawai di Bank Syariah pada Januari tercatat sebanyak 55.597 orang. Besarnya penduduk muslim di Indonesia membuat bisnis syariah memiliki potensi untuk terus berkembang.

Dari data diatas dapat dilihat begitu banyak pelaku bisnis di Indonesia yang berlandaskan syariat islam, namun pada faktanya yang kita rasakan saat ini masih banyak sekali kekeliruan yang terjadi. Masih ada perusahaan yang berlandaskan syariat islam tetapi karyawannya yang korupsi, ada karyawan yang mengeluh karena tekanan atasannya, pelayanan yang durasinya sangat lama atau menemukan beberapa tempat yang notabanenya lingkungan islam (Salon muslimah, butik muslimah dll) tetapi faktanya jauh dari nilai islam, hingga banyak yang pada akhirnya resign karena tidak nyaman dengan atasannya.

Itulah beberapa catatan yang pada akhirnya menjadi hal yang sangat penting untuk diperbaiki. Sudah seharusnya dalam berbisnis kita meneladani cara – cara Rasulullah SAW. Salah satunya tentang mengelola SDM yang tepat. Karena bisnis yang kita jalani adalah berlandaskan syariat islam, aspek kesejahteraan, kenyamanan, keistiqomahan, akhlakul karimah karyawan kita menjadi hal yang penting untuk kita perhatikan.

Dalam kacamata islam suksesnya bisnis yang kita jalani tidak hanya dilihat dari banyaknya omset yang kita raih, tetapi keberkahanlah yang menjadi titik acuan suksesnya bisnis kita. Keberkahan yang tidak hanya dirasakan oleh owner saja tetapi semua pihak yang membantu jalannya bisnis yang kita miliki. Dari mulai manager, customer service, office boy dan bagian – bagian yang lainnya hingga konsumen pun ikut merasakan keberkahan dari adanya bisnis kita.

Beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mengelola sumber daya insani yang sesuai dengan syariat islam adalah membiasakan karyawan melaksanakan ibadah Sunnah, seperti shalat dhuha sebelum mulai bekerja, tilawah di waktu rehat bekerja atau bahkan diberikan waktu khusus untuk karyawan tilawah, membiasakan untuk shalat fardhu tepat waktu dan berjamaah bersama karyawan lain dan yang lainnya. Tidak hanya tentang ibadah Sunnah saja, akhlak pun bisa menambah nilai keberkahan bisnis kita. Misalnya dengan kita selalu menjaga kebersihan lingkungan kantor, membiasakan untuk saling sapa kepada sesama karyawan, melayani konsumen dengan ramah dan sopan, tidak adanya hal hal yang disembunyikan antara owner dan karyawan sehingga tidak terjadi kesalah fahaman dan juga hal – hal positif lainnya.

Itulah beberapa nilai yang harus diperhatikan pebisnis yang bisnis mereka berlandaskan syariat islam, jangan sampai kita mengakui bisnis kita islami yang semata – mata mengharapkan keberkahan, tetapi kita tidak menerapkan syariat islam didalamnya dan lupa ada pihak – pihak lain yang belum merasakan keberkahan bisnis kita. (Fathimah Khoirotun Hisaan)

Comments

comments