Kamis , Desember 13 2018
Home / Opini / Apa Kabar Keuangan Indonesia?

Apa Kabar Keuangan Indonesia?

Oleh : Faridhah Aulia ( Mahasiswi STEI SEBI )

Uang adalah salah satu Aset yang sangat dibutuhkan oleh para Insan dimuka bumi ini, Kenapa ? karena uang adalah alat tukar yang dapat diterima secara umum dikalangan masyarakat dalam proses pertukaran barang dan jasa.

Negara Indonesia pun sangat-sangat butuh sekali dalam Asset yang satu ini, tapi mengapa, Kita salah satu negara penghasil uang, Namun mempunyai hutang yang semakin lama, semakin menggunung, namun tidak diatasi , untuk saat ini hutang Indonesia tercatat mencapai Naik 10 persen, Utang Luar negri Indonesia Capai Rp. 4.915 Trilun. Angka yang begitu menakjuban bukan. Bank Indonesia (BI) mencatat Utang luar Negri Indonesia pada akhir Januari 2018 meningkat 103 persen ( yoy) menjadi 357,5 miliar dollasr AS atau sekitar Rp. 4.915 Triliun ( Kurs Rp 13.3750 per dollar AS). .

Lalu bagaimanakah Keuangan Indonesia Saat ini,

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati bersama ketiga anggota Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), yaitu Ketua Dewan Komite Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso, Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus DW Martowardojo dan Ketua Dewan Komite Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Halim Alamsyah, memberikan paparan terkait kondisi sistem keuangan di Indonesia seusai rapat koordinasi KSSK pada Senin (22/01). Ini merupakan pertemuan pertama KSSK di tahun 2018, dimana akan dijadwalkan 3 kali dalam setahun.

Pada konferensi pers yang diadakan di gedung Djuanda Kementerian Keuangan pada Selasa (23/01), Ia menyampaikan kondisi dari sistem keuangan Indonesia terkendali dan hal-hal yang dapat dilakukan untuk meningkatkan momentum pertumbuhan ekonomi di Indonesia.

“Kondisi stabilitas makro ekonomi dan sistem keuangan tetap terkendali dalam rangka mendukung momentum pertumbuhan perekonomian nasional yang ditopang dengan daya tahan perekonomian yang kian membaik. Kondisi tersebut ditandai dengan tingkat inflasi yang rendah sesuai target, neraca transaksi berjalan pada tingkat yang sehat, aliran masuk modal asing yang stabil, nilai tukar rupiah yang terjaga, dan cadangan devisa yang menguat, serta kebijakan fiskal dengan tingkat defisit anggaran dan defisit primary balances yang lebih rendah dari target Anggaran Perencanaan dan Belanja Negara APBNP 2017,” jelas Menkeu.

Selain itu, kinerja perbankan dan pasar modal juga menunjukkan kondisi yang baik, performa dari SBN yang positif, adanya kecukupan dana penjamin simpanan, persepsi investor yang positif, serta prospek perekonomian Indonesia kedepan yang juga membaik. Gubernur Bank Indonesia, Agus DW Martowardojo juga menyatakan bahwa stabilitas makro ekonomi dan stabilitas sistem keuangan cukup terjaga.

“Kita melihat resiliensi perekonomian Indonesia semakin membaik, dan itu ditandai dengan inflasi yang terjaga, dan bisa sesuai dengan target selama 3 tahun terakhir. Nilai tukar stabil dan dana masuk ke Indonesia juga menunjukkan kondisi yang kuat. Kita lihat cadangan devisa juga cenderung meningkat,” papar Gubernur BI.

Secara umum dapat dicermati bahwa stabilitas sistem keuangan dalam kondisi baik dan tercemin dari industri keuangan yang kuat. Untuk kedepannya, KSSK mencermati tentang adanya beberapa tantangan dan resiko terhadap stabilitas sistem keuangan, baik yang berasal dari eksternal maupun internal (domestik).

Lalu Bagaimanakah Sistem kuangan Indonesia saat ini ?

Bank Indonesia (BI) menjelaskan stabilitas sistem keuangan nasional tetap terjaga di tengah intermediasi perbankan yang belum terlalu kuat.

Asisten Gubernur BI, Dody Budi Waluyo menjelaskan, stabilitas sistem keuangan tercermin pada rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) perbankan yang cukup tinggi pada level 23,2% dan rasio likuiditas (AL/DPK) pada level 22,7% pada Oktober 2017.

Menurut Presiden Partai Keadilan sejahtera Shohibul Iman, Jangan membandingkan utang Indonesia denagn Jepang. Namun Ditanggapi Oleh Nufransa Wira Sakti ( Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Kementrian Keuangan) Dikatakan :

Bahwa Jepang memiliki fundamental ekonomi jauh lebih mapan dibandingkan Indonesia. Walaupun Jepang termasuk Negara mapan, Indonesia juga tudak kalah mapan. Saat ini Indonesia menjadi salah satu negara tujuan investasi. Lima lembaga pemeringkat internasional telah memberikan predikat investment grade yang artinya negara kita layak Investasi. Pertumbuhan ekonomi kita juga stabil dan relatif lebih tinggi dibandingkan negara setara. Penyederhanaan peraturan dan proses bisnis terus dilakukan sehingga peringkat kemudahan berbisnis (Ease of doing Business) Indonesia melonjak tajam 34 peringkat selama dua tahun terakhir. Tahun 2015, peringkat Indonesia 190 menjadi peringkat 72 di tahun 2017. Dengan demikian Indonesia termasuk dalam negara “The best reformer di dunia”.

Kedua, tentang kepemilikan surat utang yang dikatakan bahwa di Jepang itu kebanyakan dimiliki warganya sendiri. Indonesia juga sudah menuju ke arah yang sama. Saat ini dari 100 persen utang, 80 persen berasal dari Surat Berharga Negara (SBN) dalam Rupiah yang diperdagangkan di market. Komposisinya adalah 60 persen dimiliki rakyat Indonesia dan 40 persen investor asing. Jadi, sejumlah 48 persen dari total pinjaman adalah pinjaman dari masyarakat. Bahkan pemerintah juga makin memperluas instrumen utang seperti Sukuk ritel dan SBN ritel agar masyarakat luas dapat ikut menempatkan dana investasinya di surat utang pemerintah. Sisanya yang 52 persen dari luar dengan komposisi 32 persen SBN yang dibeli asing plus 20 persen pinjaman langsung.

Ketiga, tentang bunga utang. Memang bunga utang di Jepang terbilang rendah dikarenakan inflasi di Jepang yang sangat rendah (mendekati nol persen bahkan sempat beberapa tahun terakhir mengalami inflasi negatif atau deflasi). Indonesia juga telah berhasil menurunkan inflasi hingga kisaran 3,5 persen. Bahkan dengan langkah tegas dan konsisten dari pemerintah untuk menurunkan rasio defisit melalui disiplin belanja, yield surat utang Indonesia dan spread (selisih) terhadap surat utang Amerika mengalami penurunan tajam pada akhir 2017 dan awal 2018 dibandingkan tahun 2016.

Comments

comments