Kamis , Desember 13 2018
Home / Berita / Nasional / Antara Bawang Merah dan Lemahnya IPM di Brebes

Antara Bawang Merah dan Lemahnya IPM di Brebes

Ilustrasi. (Istimewa)

Brebes merupakan salah satu kabupaten yang terluas di Provinsi Jawa Tengah setelah Kabupaten Cilacap dengan luas wilayah sekitar 1.657,73 km2 dan jumlah penduduk +/- 1.767.000 jiwa. Karenanya, Brebes merupakan kabupaten dengan jumlah penduduk paling banyak di Jawa Tengah.

Menurut data Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Brebes sebagian besar wilayah Kabupaten Brebes adalah dataran rendah, sedangkan bagian barat daya adalah dataran tinggi (dengan puncaknya gunung kumbang dan gunung Pojoktiga) dan bagian tenggaranya sendiri terdapat pegunungan bagian dari gunung slamet. Dengan kondisi iklim tropisnya yang sangat mendukung, menjadikan daerah Brebes ini sangat potensional untuk pengembangan produk pertanian, perkebunan, peternakan, maupun pariwisata.

Sektor pertanian merupakan sektor yang paling dominan di kabupaten Brebes. Mengingat letak geografis dan iklim tropisnya yang potensial untuk pengembangan produk pertanian seperti tanaman padi, hortikultura, perkebunan, perikanan, peternakan dan sebagainya., tak tanggung-tanggung potensi yang sangat besar ini pun membuat sekitar 70% dari sekitar 1,7 juta jumlah penduduknya bekerja pada sektor ini. Berdasarkan data dari Departemen Pertanian Indonesia, kontribusi sektor pertanian ini mencapai +/- 56% bagi Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) daerah Brebes dengan nilai ekonomi lebih dari 2,4 Triliun, dimana 50 persennya dari pertanian Bawang Merah.

Perkembangan budi daya bawang merah sendiri diperkirakan mulai pada tahun 1950, yang mana diperkenalkan pertamakali oleh warga keturunan Tionghoa yang tinggal di kabupaten Brebes. Dan hingga kini budidaya bawang merah ini telah menjadi nafas kehidupan mayoritas masyarakat di kabupaten Brebes. Bawang merah sendiri telah menjadi trade mark bagi kabupaten Brebes, mengingat posisinya sebagai produsen terbesar komoditi di tataran nasional dengan luas panen per tahun mencapai 20.000 – 25.000 hektare atau dengan tingkat produksi lebih dari 2 juta kwintal per tahun. Berdasarkan kompilasi data BPS Jateng, produksi bawang merah di Brebes mencapai 72,65% dari luas lahan 24.910 Ha, sedangkan kontribusi 34 kabupaten/kota lain di Jateng total 25,35% dari area seluas 12.700 Ha.

Usaha bawang merah sangat menguntungkan karena mempunyai pasar yang cukup luas, di sisi lain konsumsi bawang merah meningkat sekitar 5% setiap tahunnya seiring bertambahnya jumlah penduduk dan berkembangnya industri olahan, kenyataannya konsumsi bawang merah penduduk Indonesia pada tahun2004 mencapai 725.000 ton (Departemen Pertanian Indonesia, 2004). Bawang merah memiliki peluang ekspor yang masih terbuka luas, hal ini disebabkan dari peningkatan konsumsi dan pemanfaatannya untuk terapi kesehatan. Bilamana Negara Indonesia sedang musim panen bawang merah, hal ini akan saling melengkapi dengan negara lain, artinya jika Indonesia sedang musim panen maka di negara lain sedang musim tanam dan sebaliknya. Kondisi seperti ini memberi peluang ekspor bawang merah bilamana konsumsi dan kebutuhan industri bawangmerah dalam negeri telah terpenuhi. Hal ini memberikan banyak kontribusi bagi daerahnya untuk pembangunan daerah khususnya pembangunan di bidang pertanian dan negara dengan meningkatnya pendapatan negara.

Bawang merah sangat dibutuhkan serta banyak dicari oleh berbagai masyarakat untuk kebutuhan hidup, sehingga bawang merah menjadi sumber perekonomian masyarakat daerah yang mayoritas menggantungkan hidupnya pada sektor pertanian.

Melihat kondisi alam kabupaten Brebes, baik dari luas wilayah maupun jumlah penduduknya yang terbanyak di Jawa Tengah, ini merupakan salah satu asset daerah yang semestinya mampu menjadikan Brebes maju terdepan dalam segala bidang khususnya ekonomi pertanian/perkebunan dan perikanan serta pendidikan maupun seni dan budaya.

Akan tetapi, mengapa Indek Pembangunan Manusia untuk Kabupaten Brebes terendah di daerah Jawa Tengah ? Apakah karena lemahnya SDM dalam merespon fenomena yang ada ? Apakah karena kebijakan Pemda yang tidak mampu memanage asset daerahnya? Ataukah justru kita sendiri sebagai masyarakat Brebes yang tak mau peduli dengan persoalan-persoalan yang ada disekitar kita ?

Tentu semua pertanyaan ini kita yang bisa menjawab dan mengatasinya. Menurut salah satu narasumber warga Brebes berinisial RS ia mengatakan; “bahwa salah satu faktor indek pembangunan manusia daerah Kabupaten Brebes terendah di karenakan faktor SDM yang lemah akan tingkat pendidikannya karena terkendala biaya ataupun iklim masyarakat yang dominan sebagai petani yang mengharuskan anak-anaknya untuk terjun dalam bidang pertanian juga (bekerja dan putus sekolah).”

 

Penulis: Luthfi Ichya Ulumuddin
Editor: Muhammad Iksan

Comments

comments